Jalan Terjal Partai Ka’bah: Muktamar ke-X 27-29 September 2025

Mengurai Problem Internal untuk Kembali Berjaya di Panggung Politik Nasional

Nasional, Politik1690 Dilihat

Markaberita.id | Tajuk Khusus, 22 September 2025 – Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang lahir pada 5 Januari 1973, punya sejarah panjang sebagai salah satu partai Islam tertua di Indonesia. PPP merupakan gabungan dari empat partai keagamaan besar: Nahdlatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Berbekal rekam jejak yang tak pernah absen dari pemilu, PPP memproklamasikan diri sebagai “Rumah Besar Umat Islam.”

Namun, belakangan perjalanan partai ini menghadapi tantangan yang menggerus suara mereka di pemilu. Salah satu masalah utamanya adalah konflik internal yang berulang kali terjadi di tingkat elite. Perpecahan ini tidak hanya menyebabkan pergantian ketua umum sebelum pemungutan suara, tetapi juga membuat PPP gagal merekrut tokoh-tokoh lokal dan nasional. Selain itu, sebagian besar basis massa PPP tidak sejalan dengan pilihan politik partai dalam Pilpres 2024 yang mengusung Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Akibatnya, para pemilih berpaling dan memberikan “efek ekor jas negatif” pada pemilu tersebut.

Baca Juga  CBA: Panic Buying BBM Akibat Pernyataan Bahlil, Dasco Jangan Salahkan Rakyat

Untuk menyongsong Muktamar ke-X pada 27–29 September 2025 di Ancol, Jakarta, PPP harus berbenah diri. Jika tidak, partai ini berisiko mengalami nasib yang sama seperti dinosaurus, yang hilang ditelan zaman dan hanya menjadi dongeng sejarah. Muktamar mendatang menjadi momentum krusial untuk menentukan apakah PPP akan kembali menguatkan fondasi historisnya atau justru harus rela ditinggal oleh identitas yang menjadi akar kekuatannya.

Pemimpin Ideal dan Pokok Pikiran Menuju Kebangkitan PPP

Kebangkitan PPP membutuhkan sosok pemimpin ideal yang dapat memimpin partai keluar dari krisis. Pemimpin ini harus punya kualitas amanah dan jujur yang esensial dalam perjuangan PPP. Dengan prinsip kejujuran, pemimpin dapat menjamin tegaknya saling pengertian, keharmonisan, keserasian, dan ketenteraman. Pemimpin juga harus mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam proses pengambilan keputusan kolektif, sesuai dengan prinsip keempat perjuangan PPP.

Baca Juga  Prabowo Targetkan Rupiah Stabil di Kisaran Rp16.800–Rp17.500 pada 2027, APBN Jadi "Alat Perjuangan"

Selain itu, pemimpin ideal harus berani mengambil langkah-langkah strategis:

  • Menguatkan Identitas Historis. PPP harus kembali pada semangat awalnya sebagai penyatu kekuatan umat Islam di Indonesia. Dengan merajut kembali persatuan dan melibatkan tokoh-tokoh dari kelompok-kelompok pendiri, PPP bisa mengembalikan kejayaan dan relevansi politiknya di masa depan.
  • Selesaikan Konflik Internal. Konflik internal adalah problem utama yang menyebabkan suara PPP menurun. Jika PPP ingin bangkit, penyelesaian konflik internal harus menjadi prioritas, karena hal ini akan memulihkan kepercayaan publik dan menarik kembali tokoh potensial untuk bergabung.
  • Tinjau Ulang Pilihan Politik. Salah satu penyebab kekalahan PPP dalam Pemilu 2024 adalah ketidaksesuaian pilihan politik dengan basis massa. Untuk menatap masa depan, PPP harus lebih cermat dalam menentukan pilihan politik yang sejalan dengan aspirasi dan keyakinan pemilihnya, sehingga dapat menghindari efek ekor jas negatif yang merugikan.
Baca Juga  Fenomena Bendera Bajak Laut Topi Jerami: Ekspresi Populer dan Literasi Hukum yang Terabaikan

PPP memiliki sejarah panjang sebagai “Rumah Besar Umat Islam.” Namun, untuk mempertahankan eksistensinya dan menghindari nasib “ditinggal sejarah,” partai ini harus kembali kepada prinsip-prinsip dasarnya. Muktamar 2025 harus menjadi titik balik di mana PPP menyelesaikan masalah yang telah menyebabkan suaranya menurun, termasuk konflik internal dan pilihan politik yang kurang tepat. Dengan berbenah diri dan kembali kepada akar sejarahnya, PPP dapat mengembalikan kejayaan sebagai kekuatan politik di Indonesia.(Red).