Hari Kemanusiaan Dunia 2025: Menggugat Keadilan di Tengah Krisis Moral

Nasional427 Dilihat

​

Markaberita.id – Editorila 19 Agustus 2025 – ​Setiap 19 Agustus, dunia mengheningkan cipta untuk mengenang para pahlawan kemanusiaan yang gugur dalam tugas mulia. Namun, perayaan tahun 2025 terasa digugat oleh realitas yang ironis: korupsi merajalela dan beban pajak yang mencekik rakyat. Jika pilar negara—yang seharusnya melindungi—justru menjadi sumber ketidakadilan, lantas di mana letak kemanusiaan kita?

​Tahun 2025 mencatat serangkaian kasus korupsi dengan kerugian negara yang fantastis. Dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur, layanan publik, atau bahkan bantuan sosial, lenyap tak berbekas dalam kantong-kantong pribadi. Kasus-kasus ini bukan sekadar angka di laporan audit; ini adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat yang berjuang setiap hari untuk bertahan hidup. Korupsi adalah bencana moral yang menghancurkan fondasi keadilan, merampas hak-hak dasar, dan menciptakan jurang kesenjangan yang semakin dalam.

Baca Juga  Skandal "Malaikat" Imigrasi: KPK Bongkar Gurita Korupsi Rp366 Miliar, Aset Mewah Dibeli Pakai Emas Batangan

​Di saat yang sama, kebijakan pajak yang melambung tinggi menjadi beban yang tak tertahankan bagi rakyat. Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang fantastis terasa seperti pukulan telak. Ketika rakyat dipaksa membayar lebih untuk membiayai negara, sementara elite-elite tertentu justru menggerogoti kas negara, kemanusiaan kita dipertanyakan. Pajak seharusnya menjadi wujud gotong royong, bukan alat untuk membebani yang lemah demi menutupi keserakahan para elite.

​Pada Hari Kemanusiaan Dunia ini, mari kita bersuara. Mari kita tuntut akuntabilitas dan transparansi dari setiap pengelola negara. Kemanusiaan bukanlah sekadar donasi atau bantuan sesaat; ia adalah sistem yang adil dan berintegritas. Sudah saatnya kita menolak korupsi sebagai budaya, dan menuntut kebijakan yang berpihak pada rakyat. Kita harus berani membangun kembali fondasi moral bangsa, di mana keadilan dan empati menjadi nilai yang tak bisa ditawar. Karena hanya dengan begitu, semangat kemanusiaan yang diperingati setiap tahun dapat benar-benar hidup.(Red).

Baca Juga  Indonesia Darurat Pendidikan Inklusif: Setiap 35 Desa, Hanya Ada 1 SLB!

​https://m.youtube.com/watch?v=O-uktSKMs2o