Jual tabung gas 3 KG bersegel dalam kondisi Kosong, Pangkalan dan SPBE jadi sorotan..!!!

News540 Dilihat

Purwakrta.jabar||

Markaberita.id- Gas melon 3 KG yang diproduksi oleh Pertamina merupakan salah satu produk subsidi pemerintah yang akhir-akhir ini banyak menuai kontroversi, dimulai dari pendistribusiannya yang diduga di mark up oknum-oknum tertertentu demi meraup keuntungan pribadi, kurangnya isi/volume dari tabung pada saat Sidak Mentri ESDM, kebocoran hingga kasus tabung gas melon 3 KG yang masih bersegel namun tidak ada isinya alias KOSONG.

 

Hal tersebut dialami langsung oleh Dwi Joko Waluyo yang merupakan ketua organisasi profesi wartawan Forum Pers Independen Indonesia (baca : FPII) Purwakarta. Minggu 30/03/25, sehari sebelum lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah. Joko (sapaan akrabnya -red) membeli isi ulang tabung gas melon 3KG di pangkalan yang berada di SPBU Citapen. Namun hal janggal dirasakan oleh Joko ketika tabung berisi 3 KG tersebut diangkat terasa “ringan” seperti tabung gas kosong yang tidak berisi, padahal jelas tabung tersebut MASIH BERSEGEL.

Baca Juga  DPC PERADI Kota Bandung Gelar Nobar Film Shelter untuk Pererat Silaturahmi Advokat

 

Sebagaimana kita ketahui, pada umumnya berat kosong tabung gas melon 3 KG adalah 5 KG sementara berat isinya adalah (kurang-lebihnya) 8 KG. Untuk memastikan hal ini, Joko pun langsung menimbang berat tabung yang dibelinya tersebut ternyata benar adanya berat tabung yang masih tersegel tersebut sama dengan berat tabung kosong yakni (kurang lebih) 5KG.

 

Menyikapi hal ini, Joko menceritakan kejadian yang dialaminya kepada redaksi lensafakta.com dan Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK). Kami pun menyikapi hal tersebut dengan mencoba meminta klarifikasi dan konfirmasi dalam bentuk hak jawab dan hak koreksi kepada beberapa pihak terkait, salah satunya SPBE PT Dharma Kumala Utama yang berada di Jalan raya sadang subang, kiara 2,, Jl. Raya Campaka, Cikumpay, Kec. Campaka, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41181.

Baca Juga  Diperlakukan Istimewa Oleh Jaksa, 5 Terdakwa Perusak Dan Pembatai Supir Truk PT Key Key Tak Diborgol..!! PH : Equality Before Of Law, Aswas Harus Turun Tangan..!!*

 

Sidiq Kurnia, salah satu PIC SPBE yang kami mintai klarifikasinya melalu pesan WhatsApp.

 

Sidiq berdalih kalau semua sudah sesuai prosedur, “Kalo untuk SOP pengisian, setiap hari selalu kita jalankan pak, dengan pengawasan baik dari checker yg ditunjuk Pertamina maupun dari QC di spbe”

 

Ia melanjutkan, “Spbe, agen penyalur dan pangkalan sendiri sebenarnya ada SOP masing². Di SPBE setiap tabung yang telah terisi pasti melalui tempat leak test/pengetesan kebocoran, setelah itu baru masuk ke truck penyalur secara manual, jd kalo tabung itu kosong pasti terasa oleh karyawan bagian pengisian truck / Muat”

 

“Jadi seharusnya pangkalan pun melakukan tes kebocoran dan penimbangan sebelum menyalurkan kepada masyarakat” , tutupnya.

Baca Juga  LSM Gorila Menguank Tabir Dugaan Pungutan Dana UP Parkir DKI Jakarta.Kerugian Capai Dua Triliun Pertahun

 

Sangat disayangkan, SPBE yang merupakan kemungkinan terbesar terjadinya human eror atau kesalahan SOP memberikan jawaban yang seakan-akan membantali pangkalan atau agen dengan alibi kemungkinan bisa terjadi kebocoran dalam pendistribusian.

 

Kepada pihak-pihak terkait, khususnya Pertamina hendaknya hal ini menjadi perhatian, jangan sampai blunder seperti ini seringkali terjadi dimasyarakat, Kementrian ESDM pun harus memberikan perhatian lebih agar ini menjadi atensi, hal-hal kecil yang menimbulkan potensi kerugian terhadap masyarakat adalah kerugian juga bagi Negara, akankah kasus seperti ini dibiarkan begitu saja atau ada tindakan tegas untuk mendisiplinkan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pengisian dan pendistribusian?! Kita tunggu seberapa “berani” Pertamina dan Kementrian mengambil tindakan

(Saepul B)