Pasar Saham Drop 11,2% Pasca _Trading Halt_, Ichsanuddin Noorsy Bongkar 9 Penyebab Utamanya

Ekonomi, Nasional94 Dilihat

MARKABERITA.COM, ​JAKARTA  — Penghentian sementara perdagangan (_trading halt_) gagal membendung kejatuhan pasar saham domestik yang merosot tajam hingga 11,2%. Pengamat ekonomi dan politik ekonomi Indonesia, Ichsanuddin Noorsy, menilai krisis di pasar keuangan ini bukan sekadar dinamika teknis biasa, melainkan cerminan dari rapuhnya ketahanan nasional dan besarnya tekanan invasi dan intervensi asing terhadap regulasi dan pasar Indonesia.

​Dalam keterangan resminya pada Jumat (16/10/2026), Noorsy membongkar sembilan faktor utama yang menjadi pemicu utama gejolak hebat di pasar modal dan pasar uang tanah air.

​Pertama, fenomena antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU menjadi indikator telanjang bahwa ketahanan energi nasional telah merosot drastis menjadi 21 hari.

Baca Juga  CBA Desak Kejagung Usut Dugaan Pemborosan Rp338,4 Miliar Lisensi Oracle di Kemenkeu

​Kedua, krisis pasokan energi tersebut secara langsung menghancurkan tingkat kepercayaan publik dan pelaku pasar terhadap kapabilitas pemerintah dalam mengelola stabilitas ekonomi makro.

​Ketiga, akumulasi ketidakpastian tersebut mendorong kejatuhan nilai tukar Rupiah hingga menembus level psikologis di atas Rp18.000 per Dolar AS.

​Keempat, terdepresiasinya rupiah secara signifikan berpotensi kuat memicu lonjakan inflasi (imported inflation), yang pada gilirannya akan memaksa kenaikan suku bunga acuan dan makin mencekik sektor riil.

​Kelima, pasar modal Indonesia kini dibayangi ancaman penurunan status menjadi stand-alone market. Kondisi ini membuktikan bahwa berbagai _deal_ geopolitik dan komitmen ekonomi—seperti posisi pemerintah RI sebagai _off-taker_ minyak AS, pembelian armada Boeing, impor pangan, hingga MoU dengan Freeport—tidak berarti banyak untuk menyelamatkan sentimen pasar.

Baca Juga  Tren Penjualan Makanan Kucing di Januari - Mei 2024, Royal Canin Menguasai Pasar

​Keenam, raksasa pengelola investasi global seperti Vanguard dan BlackRock tetap melayangkan vonis keras terkait transparansi _free float_ serta menuntut kebijakan moneter Indonesia tunduk pada kriteria dan kepentingan mereka.

​Ketujuh, fenomena ini memperlihatkan dikte pasar modal dan pasar uang internasional, di mana Indonesia dipaksa secara sistematis untuk tunduk pada aturan, regulasi, dan standardisasi korporasi global.

​Kedelapan, kerentanan sektor ekonomi dan keuangan Indonesia sudah berada pada tahap struktural. Siapa pun Presiden, Menteri Keuangan, maupun Gubernur Bank Indonesia yang menjabat, Indonesia akan terus mengalami kerentanan ekonomi selama akar permasalahannya dibiarkan.

​Kesembilan, penyebab paling mendasar dari karut-marut ini adalah sistem ekonomi Indonesia beserta para pengambil kebijakannya yang terlalu mudah untuk diinvasi, diintervensi, diinterferensi, diinfiltrasi, dan diintimidasi oleh kepentingan luar.(red).

Baca Juga  Peringkat Naik Signifikan, BINUS UNIVERSITY Tembus Posisi 401-600 Dalam Times Higher Education Impact Rankings 2024