Lobang Buaya: Misteri Pembunuhan Berlatar Sejarah, Hanung Bramantyo Siapkan Plot Twist

Daerah66 Dilihat

Jakarta, ll Markabertia.com– Sutradara Hanung Bramantyo kembali menghadirkan karya dengan pendekatan yang berbeda melalui film Lobang Buaya. Menggabungkan unsur horor, misteri, dan fiksi sejarah, film produksi Adhya Pictures bersama Dapur Film ini menghadirkan kisah investigasi pembunuhan berantai yang berlatar Indonesia pada dekade 1960-an.

‎Film tersebut telah diperkenalkan melalui gelaran Gala Premiere di Epicentrum XXI, Jakarta. Sejumlah pemain utama turut hadir, di antaranya Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, dan Mathias Muchus.

Berbeda dari film horor pada umumnya, Lobang Buaya menempatkan misteri dan investigasi sebagai bagian penting dalam membangun ketegangan. Cerita berpusat pada Letnan Soegeng, seorang perwira muda yang mendapat tugas untuk menyelidiki serangkaian kematian misterius di Desa Lobang Buaya.

‎Kasus tersebut menjadi semakin rumit karena para korban merupakan orang-orang yang memiliki posisi penting di tengah masyarakat. Mereka ditemukan meninggal dengan luka-luka yang memiliki pola tertentu.

Yang membuat penyelidikan semakin mencekam adalah adanya pola waktu yang tidak biasa. Pembunuhan selalu terjadi pada tanggal 30 setiap bulan. Pola tersebut membuat masyarakat desa hidup dalam ketakutan, sementara Soegeng berusaha menemukan hubungan antara para korban dan sosok yang berada di balik rangkaian pembunuhan tersebut.

Baca Juga  Peresmian 2.664 Titik Air di Indonesia Kabupaten Garut Terima 9 Titik

Bukan Kisah tentang Tragedi 1965‎Latar sejarah menjadi salah satu elemen penting dalam Lobang Buaya. Namun, Hanung Bramantyo menegaskan bahwa film ini tidak dibuat untuk menceritakan kembali tragedi 30 September 1965 ataupun menjadikan tragedi tersebut sebagai objek horor.

Menurut Hanung, unsur horor digunakan sebagai bahasa sinematik untuk menggambarkan trauma, dendam, serta konsekuensi dari kejahatan yang terjadi di dalam dunia fiksi film.

“Horor dalam film ini bukan cara kami melihat korban tragedi 1965, melainkan sebuah bahasa untuk menggambarkan dendam dan trauma dari sebuah kejahatan yang terjadi dalam dunia fiksi film tersebut,” ujar Hanung.

‎Ia menyadari bahwa penggunaan genre horor dengan latar sejarah yang sensitif dapat menimbulkan beragam pandangan. Karena itu, Hanung berusaha memberikan batas yang jelas antara cerita fiksi dan peristiwa sejarah.

‎“Saya memahami jika ada orang yang merasa pendekatan horor tidak tepat. Itu adalah pandangan yang sah. Tetapi saya berharap pilihan genre tidak otomatis dianggap sebagai bukti bahwa pembuat film tidak memiliki empati,” katanya.

Hanung menambahkan bahwa film tersebut tidak dimaksudkan untuk menertawakan ataupun mengeksploitasi tragedi sejarah.

Baca Juga  Polsek Talang Ubi Lakukan Monitoring,Pengamanan dan Pengaturan Lalu-Lintas Terkait Banjir yang Melanda Wilayahnya

‎“Saya membuat film ini bukan untuk menertawakan tragedi. Saya membuatnya untuk bercerita tentang bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror yang jauh lebih panjang daripada kehidupan orang-orang yang menciptakannya,” ujarnya.

Ketika cerita mendekati peristiwa 30 September 1965, menurut Hanung, penonton diharapkan dapat melihat perbedaan antara dunia fiksi yang dibangun dalam film dan sejarah yang menjadi bagian dari ingatan kolektif bangsa Indonesia

Baskara Mahendra Ikut Terkecoh

Baskara Mahendra, yang memerankan Letnan Soegeng, mengaku mendapat tantangan tersendiri dalam mempersiapkan karakter tersebut. Selain harus memahami latar Indonesia pada era 1960-an, ia juga dituntut mengikuti alur investigasi yang dipenuhi perubahan arah cerita.

‎Baskara bahkan mengaku beberapa kali dibuat tidak yakin mengenai siapa sebenarnya sosok yang berada di balik rangkaian pembunuhan tersebut.

“Memerankan Soegeng benar-benar pengalaman yang sangat unik bagi saya. Di film ini saya harus bermain peran di latar yang tidak familiar dengan saya, yaitu Indonesia tahun 1960-an,” kata Baskara.

‎Ia menambahkan bahwa banyaknya plot twist membuat proses mengikuti cerita menjadi pengalaman tersendiri.

Baca Juga  Bey Machmudin Takziah ke Rumah Duka Acep Purnama

“Bahkan saya yang ikut main filmnya nggak bisa nebak siapa dalangnya,” ujarnya.

‎Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan pendekatan cerita yang digunakan Lobang Buaya. Penonton tidak hanya diajak mengikuti perjalanan seorang penyelidik, tetapi juga diarahkan untuk mencurigai berbagai karakter yang muncul sepanjang cerita.

Mengandalkan Misteri dan Ketegangan

Dalam cerita, hampir setiap tokoh memiliki kepentingan dan rahasia masing-masing. Kondisi tersebut membuat proses penyelidikan Soegeng tidak berjalan sederhana

‎Ketegangan dibangun melalui hubungan antarkarakter, petunjuk yang muncul secara bertahap, serta pola pembunuhan yang menjadi kunci utama misteri.

Pendekatan tersebut membuat Lobang Buaya tidak hanya mengandalkan elemen supranatural. Unsur misteri dan psikologis justru menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer film.

Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Lobang Buaya akan hadir di sejumlah jaringan bioskop nasional, termasuk XXI, CGV, dan Cinepolis

Dengan perpaduan fiksi, investigasi, horor, dan latar sejarah, film ini menawarkan sebuah cerita misteri yang menempatkan penonton sebagai bagian dari proses pencarian kebenaran—hingga identitas sosok di balik rangkaian pembunuhan akhirnya terungkap.

‎(Red)

‎