Dugaan Ketidaksesuaian Menu MBG di Dapur Setiajaya #002, Warga Keluhkan Sajian dan Minta Evaluasi ‎

Daerah64 Dilihat

Kabupaten Bekasi ll Markaberita.com — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dapur SPPG Setiajaya #002, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, menjadi sorotan setelah muncul keluhan dari sejumlah penerima manfaat terkait menu makanan yang disajikan pada Jumat, 9 Oktober 2026.

‎Berdasarkan informasi yang dihimpun, menu yang dibagikan kepada penerima manfaat pada hari tersebut terdiri atas dua potong roti tawar, satu butir telur ceplok, satu buah tahu bulat, tumis timun, dan tiga butir buah anggur.

‎Menu tersebut dipersoalkan karena dinilai tidak sebanding dengan nilai anggaran yang diperkirakan untuk setiap porsi. Bahkan, muncul dugaan adanya ketidaksesuaian antara nilai anggaran menu dan biaya bahan makanan yang digunakan. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan verifikasi melalui pemeriksaan dokumen belanja, standar biaya, serta klarifikasi dari pihak terkait.

‎Informasi yang beredar turut menyoroti dugaan keterlibatan Kepala SPPG Setiajaya #002, Muhamad Agus Riady, bersama seorang chef bernama Pandu dalam pengelolaan menu dan anggaran makanan. Akan tetapi, dugaan adanya kerja sama untuk memperoleh keuntungan pribadi tersebut belum dapat dipastikan dan memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Baca Juga  Be Healthy Be Happy Persembahkan Senam Halusia, Dr. Dewi Motik Pramono Apresiasikan Sambutan Pelaku UMKM Madiun

‎Keluhan muncul karena menu yang disajikan dinilai perlu dievaluasi dari segi kecukupan gizi, variasi makanan, serta kesesuaiannya dengan standar program MBG.

‎Sejumlah penerima manfaat disebut mengeluhkan sajian yang diterima. Selain persoalan variasi menu, masyarakat juga mempertanyakan kesesuaian komposisi makanan dengan kebutuhan gizi penerima manfaat.

‎Berdasarkan informasi yang disampaikan kepada redaksi, pemantauan terhadap menu di Dapur MBG Setiajaya #002 dilakukan sejak Jumat, 9 Oktober 2026, hingga Rabu, 14 Oktober 2026. Dalam periode tersebut, muncul dugaan bahwa variasi menu tidak mengalami perubahan yang signifikan.

‎Meski demikian, penilaian mengenai kecukupan gizi dan kesesuaian menu harus dilakukan berdasarkan berat bahan makanan, kandungan gizi, kelompok usia penerima manfaat, serta standar teknis yang berlaku. Nilai harga bahan makanan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa suatu menu tidak memenuhi kebutuhan gizi.

Baca Juga  Camat Muaragembong Lantik 5 PJ Kades, Tekankan Stabilitas Pemerintahan Desa Pasca Pilkades Serentak 2026

‎Atas keluhan tersebut, masyarakat berharap instansi berwenang melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG di Dapur SPPG Setiajaya #002. Agar tidak merugikan Penerima Manfaat oleh apa yang di lakukan oknum tidak bertanggungjawab.

” Harus ada evaluasi dari dinas terkait terkait menu di dapur MBG Setiajaya #002 , dan  juga oknum Kepala SPPG dan Chef harus ada evaluasi dari yang terkait, ” ungkap warga, saat dikonfirmasi wartawan. Rabu (14/10/2026).

‎Pemeriksaan diharapkan mencakup kesesuaian menu dengan standar gizi, transparansi penggunaan anggaran, bukti pembelian bahan pangan, serta mekanisme pengawasan dan pengendalian mutu makanan.

‎Apabila ditemukan ketidaksesuaian atau pelanggaran berdasarkan hasil pemeriksaan, pihak berwenang diharapkan mengambil tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca Juga  Kepedulian Dunia Usaha di Tengah Bencana, Ketua FPRB Pebayuran Apresiasi PT Dela Pertamina INF 1

‎Langkah evaluasi dinilai penting untuk memastikan bahwa program MBG benar-benar memberikan manfaat bagi kelompok sasaran, termasuk anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sesuai ketentuan program.

‎Hingga berita ini disusun, informasi mengenai dugaan penyimpangan pengelolaan menu dan anggaran tersebut masih memerlukan pendalaman. Klarifikasi dari Kepala SPPG Setiajaya #002, Muhamad Agus Riady, chef bernama Pandu, serta pihak mitra pengelola dapur diperlukan guna memperoleh penjelasan yang utuh dan berimbang.

‎Redaksi juga perlu memastikan apakah telah dilakukan pemeriksaan terhadap standar menu, nilai belanja bahan pangan, serta mekanisme pengawasan internal di dapur tersebut.

‎Penulis: Carim.