Danantara Ungkap 52 Persen BUMN Merugi hingga Rp20 Triliun, Transaksi Berlapis Jadi Pemicu Inefisiensi

Ekonomi, Nasional47 Dilihat

​MARKABERITA.COM, JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membeberkan kondisi finansial dan operasional Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai belum optimal. Dari total 1.074 perusahaan yang berada di bawah naungan Danantara, sekitar 52 persen atau setara 558 perusahaan tercatat mengalami kerugian.

​Nilai kerugian tersebut diperkirakan mencapai Rp20 triliun atau sekitar US$1,5 miliar setiap tahunnya.

​Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang memicu pembengkakan beban biaya operasional adalah maraknya praktik transaksi berlapis (layering companies) antar-entitas BUMN.

​”Sebagian besar perusahaan beroperasi dengan skema layering. Di setiap tahapan operasional, entitas anak atau anak usaha tersebut mengambil margin keuntungan sendiri,” ujar Dony dalam keterangannya di Fairmont Jakarta, Senin (26/10/26).

Baca Juga  Cara Analisis Opini Akun Sosial Media Palsu dengan Digital Listening Tools

​Dony memberikan gambaran konkret mengenai inefisiensi yang terjadi pada salah satu emiten telekomunikasi pelat merah, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Pada penggelaran jaringan serat optik untuk layanan IndiHome, prosesnya harus melewati rantai empat perusahaan yang berbeda.

​Karena setiap perusahaan mengambil keuntungan di tiap lapisan, biaya akhir penggelaran jaringan tersebut melonjak hingga 150 persen lebih tinggi dibandingkan penyedia jasa sejenis di pasar kompetitif.

​Praktik serupa juga ditemukan pada ekosistem usaha PT Pertamina (Persero). Dalam distribusi produk, PT Patra Niaga memegang hak kepemilikan barang, sedangkan perusahaan pelayaran internal grup ditugaskan untuk pengangkutan. Namun, perusahaan pelayaran internal tersebut justru menyewa pihak ketiga (swasta) untuk merealisasikan pengirimannya.

Baca Juga  Tertarik Kuliah Online? Yuk, Kenalan Lebih dalam dengan BINUS ONLINE

​”Artinya, ada margin keuntungan internal yang terus diambil di dalam rantai tersebut. Kasus seperti ini banyak terjadi,” tegas Dony.

​Guna mengatasi persoalan inefisiensi yang diperkirakan menyedot dana hingga US$2 miliar per tahun tersebut, Danantara mulai mengambil langkah konsolidasi bisnis. Salah satunya adalah penggabungan tiga entitas hilir Pertamina—yaitu Patra Niaga, PT Pertamina International Shipping (PIS), dan satu entitas internasional—menjadi satu integrasi operasional.

​Menurut Dony, dampak positif berupa penghematan anggaran dari penggabungan entitas tersebut sudah mulai terlihat hanya dalam waktu enam bulan sejak langkah penyederhanaan dijalankan.(red/MB).