JAKARTA, Markaberita.com — PT Danareksa (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan portofolio bisnis yang merambah berbagai sektor strategis—mulai dari jasa keuangan, kawasan industri, sumber daya air, konstruksi, manufaktur, media, teknologi, hingga transportasi dan logistik—mendapat sorotan tajam. Pasalnya, kinerja keuangan perusahaan sepanjang tahun 2025 mencatatkan anomali drastis hingga berujung pada kerugian bersih yang besar.
Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, dalam keterangannya pada Rabu (30/09/2026). Menurut Febri, PT Danareksa menghadapi tantangan sangat berat pada tahun 2025 yang hampir menggoyangkan keuangan perusahaan lantaran kerugian bersih mencapai Rp342,2 miliar.
Angka merah ini menjadi kontradiksi yang sangat kontras jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2024 sebelumnya. “Pada tahun 2024, PT Danareksa masih meraih keuntungan yang bisa mencapai Rp1,5 triliun,” ujar Febri.
Kejanggalan utama dalam laporan keuangan tersebut terletak pada perbandingan volume pendapatan usaha antartahun. Pada tahun 2025, pendapatan usaha perseroan justru mengalami kenaikan menjadi Rp4,1 triliun, lebih tinggi dibanding tahun 2024 yang hanya membukukan pendapatan usaha sebesar Rp3,9 triliun.
”Pendapatan usaha naik Rp200 miliar lebih dibanding tahun sebelumnya, tapi yang masuk ke bawah garis justru lubang Rp342 miliar. Kalau pendapatan lebih kecil bisa untung Rp1,5 triliun, lalu kenapa saat pendapatan lebih besar justru hancur?” tanya Febri kritis.
GSBK menilai bahwa kemunduran kinerja finansial ini tidak terlepas dari dua gelombang tekanan besar yang mendera perusahaan sepanjang tahun 2025:
Surat Transformasi Bisnis: PT Danareksa menerima “surat cinta” dari PT Danantara Asset Management (Persero) selaku pemegang saham Seri B terkait tindak lanjut rencana transformasi bisnis perseroan agar fokus menjadi holding Kawasan Industri.
Perombakan Dewan Komisaris: Terjadi perubahan struktur kepemimpinan di jajaran dewan pengawas, terutama posisi Komisaris Utama (Komut) yang beralih dari Robert Pakpahan kepada A. Helmy Faishal Zaini.
Melihat fenomena di mana perolehan penghasilan meningkat tetapi hasil akhir justru merosot drastis, GSBK menyimpulkan bahwa permasalahan utama tidak terletak pada pasar maupun pelanggan, melainkan pada tata kelola di dalam manajemen internal perusahaan.
”Kalau penghasilan naik tapi hasilnya turun drastis, berarti ada yang bocor. Bukan di sisi pelanggan, bukan di sisi pasar—tapi di dalam pengelolaannya sendiri,” tegas Febri.
”Danareksa punya banyak ladang usaha. Tapi kalau diurus begini, semakin banyak yang tidak masuk akal,” pungkasnya.(red).






