Merawat Akar di Tengah Kota Global: Refleksi Bamus Betawi Menuju Lima Abad Jakarta

Megapolitan71 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com — Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) menegaskan komitmen kuatnya untuk memastikan identitas lokal tetap lestari di tengah pesatnya laju modernisasi. Hal ini disuarakan dalam perayaan HUT Bamus Betawi dan HUT Kota Jakarta Tahun 2026 yang dihelat di Grand Orchardz Hotel Rajawali Kemayoran, Jakarta Pusat.

​Mengusung tema besar “Menyongsong Lima Abad Jakarta, Kota Budaya & Kota Global”, acara yang digelar pada Selasa malam (29/9/2026) ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi strategis bagi ormas Betawi dan para pemangku kepentingan.

​Pagelaran ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dan unsur pemerintahan. Di antaranya Sekretaris Majelis Adat Betawi H. Syarif Hidayatullah, S.Ip., Kepala Sub-Kelompok Lembaga Kebudayaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Farza Elvinra, S.Sos., M.Pd. (mewakili Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta), serta perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Kehadiran para pejabat daerah ini merefleksikan sinergi yang solid antara pemerintah dan masyarakat adat dalam menjaga warisan leluhur.

Baca Juga  Ribuan Truk Sampah Numpang Parkir, Kompensasi Warga Bantargebang Ikut Macet: ASNI Desak Pemprov DKI Jangan Jadikan Alasan ABT Sebagai Tameng

​Di sela-sela kemeriahan acara, kepemimpinan Bamus Betawi di bawah komando Bang Riano mengumumkan Pergantian Antarwaktu (PAW) kepengurusan. Langkah ini diambil sebagai bagian dari dinamika internal untuk memastikan roda organisasi berjalan lebih dinamis, efektif, dan solid.

​Dalam mengemban amanah organisasi, Bang Riano didampingi oleh Sekretaris Jenderal Anas Mahrup, SE., serta Bendahara Umum Dra. Hj. Farida Listuti.

​“Pergantian antarwaktu merupakan bagian dari dinamika organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana roda organisasi tetap berjalan, soliditas tetap terjaga, dan seluruh jajaran dapat bersama-sama menjalankan amanah,” ungkap Bang Riano.

​Ia menekankan bahwa Bamus Betawi harus bertransformasi menjadi organisasi yang hadir secara nyata di tengah masyarakat—bukan sekadar hidup di atas panggung seremonial. Komunikasi intensif dengan pemerintah dan berbagai elemen publik menjadi kunci agar kontribusi masyarakat Betawi dirasakan langsung dalam pembangunan kota.

Baca Juga  Pemuda Jakarta Berduka, Pemuda Jakarta Beraksi: FPPJ Serukan Persatuan dan Jaga Kondusifitas Ibu Kota

​Menyongsong usia lima abad Jakarta, tantangan terbesar bagi ibu kota adalah bertransisi menjadi kota global tanpa meninggalkan akar sejarahnya. Bang Riano mengingatkan bahwa kemajuan infrastruktur dan ekonomi tidak boleh mereduksi karakter kultural Jakarta.

​“Jakarta boleh semakin modern, semakin maju dan menjadi kota global, tetapi jangan sampai kehilangan jati dirinya. Budaya Betawi harus tetap hidup, berkembang dan menjadi bagian dari wajah Jakarta,” tegasnya.

​Menurutnya, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Kebudayaan Betawi harus adaptif terhadap perkembangan zaman dan melibatkan generasi muda sebagai motor penggerak utamanya. Tanpa sentuhan anak muda, budaya dikhawatirkan hanya akan menjadi artefak sejarah yang usang.

Baca Juga  Satu Tahun Perjalanan Pramono-Rano: BAJA Apresiasi Peran Chico Hakim sebagai Jembatan Komunikasi Rakyat

​Menutup rangkaian acara, Bamus Betawi menyerukan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Masyarakat Betawi tidak boleh hanya diposisikan sebagai simbol estetika atau tradisi semata, melainkan harus aktif mengambil peran strategis dalam berbagai aspek pembangunan kota.

​Dengan semangat kebersamaan yang dibangun melalui konsolidasi ini, Bamus Betawi berharap dapat terus menjadi jembatan penghubung yang kokoh antara masyarakat dan pemerintah, mewujudkan Jakarta yang maju secara global namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya Betawi.(red).