Ekskutif CBA Soroti Laba PHE yang Anjlok USD945,5 Juta Pasca Pergantian Pimpinan

Nasional58 Dilihat

​Jakarta, Markaberita.com — Kinerja keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sepanjang tahun fiskal 2025 menuai sorotan tajam dari kalangan pengamat. Subholding upstream PT Pertamina (Persero) ini tercatat mengalami koreksi laba yang signifikan menyusul adanya pergantian formasi di jajaran kursi kepemimpinan tertinggi perusahaan.

​Berdasarkan Laporan Tahunan PHE 2025, laba tahun berjalan perusahaan merosot ke angka USD2,175 miliar. Angka ini mengalami penurunan hingga USD945,55 juta atau sekitar 30,30% jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya pada 2024 yang membukukan laba sebesar USD3,121 miliar. Tak hanya pada pos laba bersih, pendapatan usaha PHE juga mengalami koreksi tipis menjadi USD13,819 miliar, turun USD510,72 juta (3,56%) dari pencapaian 2024 yang berada di angka USD14,330 miliar.

Baca Juga  CBA Desak Kejagung Usut Dugaan Pemborosan Rp338,4 Miliar Lisensi Oracle di Kemenkeu

​Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, dalam keterangannya pada Minggu (27/09/2026), menilai bahwa anjloknya performa laba tersebut patut dicermati secara kritis karena beririsan langsung dengan dinamika pergantian pimpinan di tubuh PHE pada pertengahan tahun lalu. Sebagai catatan, pada Juli 2025 terjadi perombakan strategis di mana kepemimpinan Direktur Utama beralih dari Chalid Said Salim kepada Awang Lazuardi. Pada saat bersamaan, kursi Komisaris Utama turut mengalami pergantian dengan ditunjuknya Denny Januar Ali (Denny JA) sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen.

​”Setelah ada pergantian pimpinan di level atas, PT Pertamina Hulu Energi seperti menghadapi tantangan berat,” ujar Uchok pada Minggu (27/09/2026), menyoroti transisi kepemimpinan tersebut. Ia juga melontarkan kritik satir terkait efisiensi operasional dan proses bisnis di sektor hulu migas, khususnya ihwal biaya pengangkatan atau lifting minyak mentah yang dinilainya membutuhkan proses panjang serta beban biaya yang tidak sedikit.

Baca Juga  Gandeng Kodim 1002/HST, Paskas Barabai Salurkan Beras Untuk Pondok Tahfidz Qur'an dan Pondok Yatim

​Meski perubahan formasi pimpinan dan efisiensi operasional menjadi sorotan publik, tinjauan mendalam atas laporan keuangan perusahaan menunjukkan adanya dimensi lain yang perlu diperhatikan secara objektif. Laporan Tahunan PHE secara transparan merinci bahwa penurunan laba bersih pada 2025 terutama dipicu oleh lonjakan biaya depresiasi serta penyisihan penurunan nilai aset nonkeuangan (impairment) yang bersifat akuntansi dan finansial.

​Di sisi lain, di balik penurunan laba bersih, kondisi likuiditas perusahaan justru menunjukkan tren positif yang kuat. Tercatat, kas bersih dari aktivitas operasi melesat 23,62% menjadi USD6,96 miliar pada 2025, naik signifikan dari USD5,63 miliar pada 2024. Kombinasi data ini memperlihatkan bahwa pelemahan laba bersih PHE tidak serta-merta mencerminkan kemerosotan kesehatan finansial secara menyeluruh. Evaluasi terhadap kinerja PHE ke depan perlu dilihat secara proporsional dengan memisahkan antara dampak fluktuasi harga komoditas, beban depresiasi aset, efektivitas biaya operasional, hingga dampak dari restrukturisasi manajemen pasca-pergantian pimpinan.

Baca Juga  Kritik Matahari Ungu: Melly Goeslaw Soroti Kreativitas Siswa SD yang Terbelenggu Aturan Kaku