Dari Perbedaan Lahir Keharmonisan, Forwala Bekasi Konsisten Rawat Toleransi Lintas Agama

Daerah49 Dilihat

KABUPATEN BEKASI —markaberita.com

Keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan, persaudaraan dapat tumbuh semakin kuat. Semangat itulah yang terus digaungkan Forum Wanita Lintas Agama (Forwala) Kabupaten Bekasi dalam merawat kerukunan masyarakat di tengah keberagaman keyakinan.

Forwala hadir membawa pesan sederhana namun penting: perbedaan agama tidak boleh menjadi sekat dalam membangun komunikasi, persaudaraan, dan kehidupan sosial yang harmonis.

Dengan melibatkan perempuan dari berbagai latar belakang agama, Forwala berupaya menciptakan ruang kebersamaan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.

Di bawah naungan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forwala Kabupaten Bekasi resmi dibentuk pada 31 Mei 2023. Sejak saat itu, organisasi yang dipimpin Sri Sugiarti tersebut terus menjalankan berbagai kegiatan yang mengedepankan silaturahmi, toleransi, serta pemberdayaan perempuan.

Peran perempuan dipandang memiliki arti penting dalam membangun suasana rukun. Nilai saling menghormati dapat dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian berkembang ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Baca Juga  Dorong Pengembangan Potensi Lokal,Pemkab PALI Meluncurkan Kampung Baung di Kawasan Pokdakan Rawa Toman Kelurahan Handayani Mulya

Ketua Forwala Kabupaten Bekasi, Sri Sugiarti, menyebut perempuan memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga persatuan di tengah keberagaman.

«”Kami ingin menjadi pelopor toleransi. Perbedaan yang ada jangan sampai memisahkan kita. Kita boleh berbeda keyakinan, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama untuk menjaga persatuan,” ujar Sri Sugiarti.»

Bukan Sekadar Wacana, Toleransi Dihidupkan Lewat Kegiatan

Semangat menjaga kerukunan tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang mempertemukan masyarakat dari latar belakang agama berbeda.

Salah satu kegiatan yang pernah digelar adalah lomba paduan suara lintas agama pada 2024, yang melibatkan 27 grup perwakilan umat beragama.

Bagi Forwala, kegiatan semacam itu bukan hanya perlombaan. Ada pesan kebersamaan yang ingin dibangun, terutama kepada generasi muda, bahwa perbedaan dapat berjalan beriringan ketika dilandasi sikap saling menghargai.

Forwala juga aktif mengikuti pembinaan bersama Bakesbangpol Kabupaten Bekasi, terutama dalam penguatan peran dan pemberdayaan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga  Ramadhan Berkah,Polsek Penukal Utara Gelar Aksi Sosial Berbagi Takjil Kepada Masyarakat

Upaya tersebut mendapat perhatian positif dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi. Kegiatan Forwala dinilai memiliki nilai strategis dalam memperkenalkan dan menanamkan semangat toleransi kepada generasi penerus.

27 Oktober 2026, Harmoni Kembali Diperdengarkan

Komitmen tersebut akan kembali diwujudkan melalui agenda Lomba Paduan Suara Lintas Agama yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.

Kegiatan akan melibatkan perwakilan dari enam agama di Kabupaten Bekasi, dengan peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA sederajat.

Melalui kegiatan tersebut, Forwala ingin menjadikan seni sebagai jembatan untuk mempertemukan generasi muda dari berbagai latar belakang.

Ada tiga pesan utama yang hendak disampaikan melalui kegiatan tersebut, yakni memperkuat tali silaturahmi, melihat keberagaman sebagai kekuatan, serta menanamkan sikap toleran dan saling menghormati sejak usia dini.

Sri Sugiarti menggambarkan filosofi kegiatan tersebut melalui paduan suara. Setiap peserta memiliki suara dan nada masing-masing, tetapi ketika dipadukan dapat menghasilkan sebuah harmoni.

Baca Juga  Jelang Pergantian Tahun Baru Paguyuban Al Huda Adakan Doa Dan Dzikir Bersama

«”Kami ingin perbedaan ini tidak menjadi sekat, tetapi menjadi keragaman yang indah. Lewat paduan suara, kita bernyanyi dengan nada yang berbeda, namun menghasilkan harmoni yang satu. Itulah Indonesia, itulah Bekasi,” ungkapnya.»

Menjaga Bekasi Tetap Rukun

Forwala Kabupaten Bekasi berharap kegiatan lintas agama dapat terus menjadi ruang bertemunya masyarakat, khususnya generasi muda, dalam suasana yang penuh persaudaraan.

Tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dunia pendidikan, perempuan, serta seluruh elemen masyarakat diajak mengambil bagian dalam menjaga suasana kehidupan yang damai dan saling menghargai.

Bagi Forwala, toleransi bukan hanya slogan yang diucapkan dalam sebuah kegiatan. Toleransi harus hadir dalam perilaku sehari-hari—ketika masyarakat mampu menghormati keyakinan orang lain, membuka ruang dialog, serta tetap bekerja sama meski memiliki perbedaan.

Dari Kabupaten Bekasi, semangat itu terus dirawat: berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kemanusiaan dan kebersamaan.

(Red/AM)