Dari Mimbar ke Garis Depan: Saat Masjid DKI Bertransformasi Jadi Benteng Siaga Bencana

Megapolitan113 Dilihat

​MARKABERITA.COM – Jakarta kembali menunjukkan bahwa ketangguhan kota tidak cukup hanya dibangun oleh birokrasi, tapi juga dari denyut nadi komunitasnya. Menyongsong tantangan musim kemarau 2026 yang diwarnai ancaman kekeringan hingga krisis air bersih, Pemprov DKI Jakarta dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengambil langkah kolaboratif yang segar: menyulap masjid-masjid lokal menjadi pangkalan taktis relawan kebencanaan.

​Langkah proaktif ini berakar dari Apel Siaga yang dipimpin langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Silang Monas awal September lalu. Membawa semangat kolaborasi “Jaga Jakarta”, DMI DKI Jakarta merespons cepat dengan menggelar Pelatihan Mitigasi Kebencanaan di Jakarta Islamic Centre, Selasa (8/9/2026), demi membekali 100 pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dari zona-zona rawan.

Baca Juga  Ekspektasi "Rumah Subsidi", Realita "Di-ghosting Negara": Sisi Gelap Megaproyek Manggarai

​Bukan rahasia lagi jika masjid memegang peran paling strategis di tengah pemukiman padat warga. Tenaga Ahli Gubernur, Reinhard Sirait, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi sosial ini.

​“Pak Gubernur sangat mengapresiasi inisiatif relawan ini. Hari ini, masjid bukan lagi sekadar tempat sujud, tapi pusat sosial yang jalurnya paling cepat sampai ke telinga masyarakat,” ungkap Reinhard.

​Di saat darurat—seperti krisis air bersih akibat El Niño atau ancaman kebakaran—jaringan takmir dan pengeras suara masjid terbukti menjadi sarana komunikasi paling efektif untuk menyebarkan informasi darurat maupun menggerakkan aksi solidaritas warga.

​Ketua DMI DKI Jakarta, KH Mamun Al Ayubi, menegaskan bahwa sudah saatnya masjid bertransformasi menjadi pusat ketangguhan masyarakat (community resilience center).

Baca Juga  Merayakan HUT ke-80 RI, Warga Lenteng Agung Gelar Lomba Cerdas Cermat Tingkat Dasar

​Melalui pelatihan intensif yang berkolaborasi langsung dengan BPBD DKI Jakarta dan PMI Jakarta Pusat, para takmir terpilih tidak hanya belajar teori mitigasi, melainkan langsung praktik lapangan:

Mitigasi Krisis: Memahami peta kerawanan bencana lokal di wilayah masing-masing.

​First Aid (Pertolongan Pertama): Dibekali keahlian dasar untuk menangani korban darurat sebelum tim medis profesional tiba di lokasi.

​Koordinasi Cepat: Menghubungkan warga terdampak langsung dengan layanan darurat terpadu Jakarta Siaga 112.

​Dengan jaringan yang mengakar kuat di setiap sudut ibu kota, inisiatif ini membuktikan bahwa energi keagamaan dan aksi kemanusiaan bisa berjalan beriringan. Saat masjid tidak hanya memakmurkan jamaahnya secara spiritual, tetapi juga melindungi keselamatan raganya, maka Jakarta selangkah lebih dekat menjadi kota yang truly tangguh menghadapi krisis apa pun.

Baca Juga  Level Up! MAN 4 Jakarta Suntik Nyawa Baru ke Arena Basket Buat Sambut Dua Event Akbar 2026

​Bagaimana pandangan Anda, seberapa efektif jika masjid di lingkungan sekitar Anda juga dilengkapi dengan posko siaga bencana mandiri?(red).