Spill The Tea: Polemik TransJakarta, BAJA Ajak Gen Z & Milenial Check Facts & Gak Asal Panik!

Megapolitan364 Dilihat

​JAKARTA , Markaberita.com— Lagi rame banget di timeline soal video viral penumpang TransJakarta yang dipaksa turun sama petugas. Kasus ini langsung bikin netizen, khususnya Gen Z dan milenial, terpecah jadi kubu yang pro dan kontra. Merespons huru-hara di media sosial ini, Ketua Umum Barisan Jakarta (BAJA), Lintang Fisuma, angkat bicara pada Rabu (05/08/2026). BAJA ngajak anak muda buat cooling down, nggak gampang kepancing emosi, dan mandang masalah ini pakai kacamata yang lebih objektif serta edukatif.

​Punya critical thinking dan kritis sama pelayanan publik itu emang green flag banget buat anak muda. Tapi, Lintang ngingetin kalau energi kritis itu harus disalurkan ke arah yang tepat, bukannya malah ngebuat narasi yang makin bias.

Baca Juga  Clear! Pihak Transjakarta Pastikan Penumpang di PGC yang Sempat Dikira Meninggal Ternyata Aman

“Transportasi publik kita emang harus inklusif dan ramah buat siapa aja tanpa diskriminasi. Tapi kita juga harus smart ngebedain masalahnya: ini murni human error dari oknum di lapangan, atau emang sistem kebijakannya yang bobrok? Jangan sampai kita salah alamat ngasih hukuman,” ujar Lintang.

Buat anak muda yang aktif di medsos, penting banget buat paham kalau perusahaan sebesar TransJakarta punya Standard Operating Procedure (SOP). Jadi, kalau ada oknum yang failing, solusinya bukan sekadar nge-cancel atau desak-desak ganti pimpinan tanpa audit yang jelas, tapi fix the system!

​Supaya kejadian serupa gak kejadian lagi dan ruang publik kita makin aman, BAJA nawarin solusi konkrit yang make sense banget buat dibenahi manajemen TransJakarta.

Baca Juga  Solidaritas Pemuda Jakarta Mengutuk Keras Dugaan Kelakuan Direksi Transjakarta, Desak Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Evaluasi Pimpinan

Pertama, manajemen TransJakarta harus open-up dan spill hasil investigasi sebenarnya ke publik biar gak jadi ajang cocoklogi atau hoaks.

Kedua, petugas garis depan (frontliner) wajib banget di-training ulang soal public communication, emotional intelligence, dan cara handle situasi secara humanis. Ketiga, warga dan netizen diajak tetep kritis tapi suportif, supaya visi Jakarta jadi kota global yang ramah dan inklusif bisa bener-bener kejadian. Yuk, jadi netizen yang cerdas, filter before you share, dan kawal terus pelayanan publik biar makin kece!.(red).