JAKARTA, Markaberita.com — Musim kemarau datang, tapi kok siklus tahunannya selalu sama: Kalimantan kembali dikepung asap dan kebakaran hutan. Nggak mau masalah klasik ini terus berulang, Koalisi Peduli Indonesia (KPI) langsung nge-gas mendesak Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat buat gercep (gerak cepat) dan ambil langkah tegas ngurusin Karhutla.
Ketua Umum KPI, Ahmad Fauzi, nyentil keras kalau penanganan Karhutla selama ini seringnya cuma jeg-jegan alias reaktif pas api udah telanjur membesar. Padahal, yang harus diperketat itu dari hulunya: pencegahan, pengawasan wilayah rawan, perlindungan warga, sampai sanksi tegas buat pihak yang sengaja bikin gara-gara.
Situasi di lapangan emang udah lampu merah. Data Kemenhut nyatet operasi pemadaman udah jalan 48 hari dengan ngerahin 12.880 personel gabungan, sementara luasan lahan yang terbakar masih terus diverifikasi.
”Kita jangan nunggu kondisi makin parah baru panik. Harus ada tindakan yang cepat, terpadu, dan terukur buat lindungi masyarakat sekaligus nyelametin lingkungan,” tegas Ahmad Fauzi, Sabtu (22/8/2026).
Fauzi ngingetin kalau dua kementerian ini punya panggung krusial yang harus jalan barengan tanpa ego sektoral:
Kementerian Kehutanan: Wajib all-out ngendaliin api di kawasan hutan dan ketatin pengawasan ke korporasi pemegang izin.
Kementerian Lingkungan Hidup (LH): Harus pasang badan buat mastiin kualitas udara aman, kesehatan warga nggak tumbang, dan hukum lingkungan ditegakkan tanpa pandang bulu.
Evaluasi total buat perusahaan-perusahaan nakal di zona merah juga jadi harga mati. Jangan sampai pas api padam, urusan kelar begitu saja tanpa ada pemulihan ekosistem.
”Jangan pas api padam, masalah dianggap selesai. Dampaknya itu panjang banget buat kesehatan, masa depan ekosistem, sampai aktivitas harian warga. Pemerintah wajib tanggung jawab buat pemulihannya,” ujar Fauzi.
Meskipun Kemenhut udah ngecek beberapa perusahaan pemegang izin (PBPH) di Kalbar dan Kemen LH/BPLH udah buka posko di Kubu Raya, KPI ngerasa itu semua masih kurang greget kalau geraknya sporadis.
Biar nggak ada lagi cerita warga jadi korban tahunan, KPI ngajuin 7 desakan konkrit ke pemerintah:
- Gaspol pemadaman di titik-titik yang masih membara.
- Upgrade sistem deteksi dini dan patroli rutin di area rawan.
- Wajibkan korporasi pemegang izin buat patuh aturan pencegahan kebakaran.
- Sikat habis dan hukum tegas pembakar hutan, baik sengaja maupun karena lalai.
- Prioritasin kesehatan warga yang kena imbas kepungan asap.
- Gerakin program pemulihan lingkungan secara total di lahan eks-kebakaran.
- Transparan! Buka data titik api, luasan area, dan update penanganan seluas-luasnya ke publik.
”Karhutla itu bukan PR satu kementerian doang, ini masalah hidup-mati masyarakat nasional. Kita minta Menteri Kehutanan dan Menteri LH turun langsung ke lapangan buat mastiin semuanya terkendali,” pungkas Fauzi.
Ke depannya, KPI bakal kawal terus isu ini biar pencegahan jadi prioritas utama, bukan sekadar pemadam kebakaran musiman.
Bagaimana menurutmu, apakah pendekatan tegas seperti ini cukup efektif untuk menghentikan siklus tahunan Karhutla di Kalimantan?(red).


