Gen Z & Milenial Wajib Tau! KPK Kok Bisa-bisanya ‘Ghosting’ Kasus Muhammad Suryo? Ini Kata CBA!

Hukum, Nasional64 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com — Pernah enggak sih kalian ngerasa gregetan sendiri sama alur hukum di Indonesia yang kalau ngadepin kasus gede tuh kerjanya lambat banget? Nah, hal inilah yang lagi disorot habis-habisan oleh Center for Budget Analysis (CBA) terkait mangkirnya Muhammad Suryo dalam pusaran kasus korupsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

​Lewat Direktur Eksekutifnya pada hari selasa (11/08/26), Uchok Sky Khadafi, CBA blak-blakan bilang kalau ketidakjelasan proses hukum kayak gini jauh lebih toxic daripada sekadar keterlambatan biasa. Publik dibiarin nebak-nebak alias overthinking sendiri gara-gara minimnya transparansi dari pihak penegak hukum.

​Usut punya usut, drama ini dimulai sejak 2 April 2026 lalu, saat KPK ngasih undangan resmi buat Muhammad Suryo dateng sebagai saksi. Hasilnya? Zonk. Yang bersangkutan mangkir alias enggak hadir di hari H.

​Sehari sesudahnya, alih-alih gercep (gerak cepat), KPK cuma ngasih statement santai kalau mereka belum dapet konfirmasi apa-apa dan bakal “koordinasi ulang”. Masuk ke awal Juni 2026, alibi mulai berubah. Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, nyeletuk kalau Suryo batal diperiksa karena habis ngalamin kecelakaan.

Baca Juga  Skandal "Malaikat" Imigrasi: KPK Bongkar Gurita Korupsi Rp366 Miliar, Aset Mewah Dibeli Pakai Emas Batangan

​Tapi plot twist-nya dateng pas 3 Juli 2026. Di dalam persidangan dakwaan mantan pejabat Bea Cukai, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK justru dengan pedenya nyebut nama Muhammad Suryo sebagai salah satu pihak yang ngasih gratifikasi senilai Rp100 juta!

​Nah, masalahnya, sampai penelusuran terakhir per 10 Agustus 2026—yang artinya udah nge-lag lebih dari 4 bulan sejak panggilan pertama—enggak ada satupun update resmi dari KPK. Apakah pemeriksaan ulang ini beneran kejadian? Atau cuma wacana doang? Nobody knows!

​Padahal ya, kalau mau ngomongin aturan main, Indonesia kan udah punya UU No. 20 Tahun 2025 tentang KUHAP baru yang sah berlaku sejak Januari 2026 kemarin. Di aturan anyar ini, posisinya udah jelas banget:

  • ​Pasal 28: Kalau saksi mangkir tanpa alesan jelas, penyidik bisa manggil sekali lagi dan minta bantuan aparat berwenang buat “jemput paksa” alias bawa yang bersangkutan.
  • ​Pasal 29: Kalau alesannya beneran karena sakit atau kecelakaan, ada opsi humanis di mana penyidik yang jemput bola alias dateng langsung ke rumah terperiksa.
Baca Juga  Pasar Saham Drop 11,2% Pasca _Trading Halt_, Ichsanuddin Noorsy Bongkar 9 Penyebab Utamanya

​Simple banget kan konstruksinya? Kalau sehat ya panggil/jemput, kalau sakit ya datengin ke rumahnya. Makanya jadi PR besar buat publik pas ngeliat proses hukum ini malah stuck berbulan-bulan cuma gara-gara frasa klise: “nanti bakal dijadwalkan ulang.” Keliatan banget kayak lagi ulur-ulur waktu, kan?

​Bahkan, CBA sempet ngebandingin sama kasus lain di Kejaksaan Agung pada Juli 2026 kemarin. Ada saksi berhalangan karena sakit, tapi langsung di-reschedule dua hari kemudian berkat penerapan Pasal 28 KUHAP baru. Artinya apa? Kalau instansi lain bisa gercep dan transparan, kenapa KPK kayak jalan di tempat?

​Takutnya, kalau dibiarin terus, masyarakat malah nganggep ada dua standar hukum di negeri ini: satu standar buat rakyat jelata (panggilan langsung berasa sanksinya), dan satu standar lagi buat “orang-orang tertentu” (panggilan berasa cuma ajang nego jadwal tanpa batas akhir).

​Biar enggak jadi bahan hoaks dan spekulasi liar di medsos, CBA akhirnya ngerangkum 4 pertanyaan krusial yang wajib banget dijawab KPK tanpa harus ngebongkar rahasia penyidikan:

Baca Juga  Ketum PWDPI Dukung Pansus DPR RI Bongkar Dugaan Korupsi Dana Haji

​Emangnya Muhammad Suryo beneran udah diperiksa secara materiil setelah mangkir dari panggilan April lalu?

​Kalau belum, kenapa panggilan kedua berdasar mekanisme Pasal 28 KUHAP baru belum juga dieksekusi secara tegas?

Kalau alesan utamanya sakit/kecelakaan, kenapa opsi jemput bola ke kediaman (Pasal 29 KUHAP) enggak langsung diambil dari kemarin-kemarin?

Mengingat nama dan aliran dana Rp100 juta udah resmi nongol di surat dakwaan JPU sejak Juli lalu, apakah fakta hukum itu udah dikonfirmasi langsung ke yang bersangkutan?

​“Kredit sebuah lembaga antikorupsi itu enggak diukur dari seberapa keren mereka ngomong di tv atau podcast, tapi dari seberapa konsisten mereka nerapin hukum adil ke siapa pun—tanpa pandang bulu,” tegas Uchok nutup kritiknya.

​Udah saatnya KPK move on dari gaya birokrasi lamban yang hobi banget ngeles pakai kalimat “kami akan berkoordinasi kembali.” Publik capek nunggu kepastian!(red).