Festival Aksara Lembur Vol. 2 Hidupkan Kembali Akar Budaya Sunda di Kasomalang

News107 Dilihat

Festival Aksara Lembur Vol. 2 Hidupkan Kembali Akar Budaya Sunda di Kasomalang

 

SUBANG — Festival Aksara Lembur Vol. 2 kembali digelar di kawasan Gedong Sinder Creative Centre, Kasomalang, Subang, Minggu (23/8/2026). Mengusung tema “Kawin Cai”, festival budaya dan literasi tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat, generasi muda, pegiat seni, budayawan, serta pelaku UMKM untuk merawat sekaligus menghidupkan kembali warisan budaya Sunda di tengah derasnya perkembangan zaman.

 

Dengan semangat “Nginding ka Waktu, Mibapa ka Jaman”, Aksara Lembur tidak sekadar menjadi agenda hiburan. Festival ini membawa pesan kuat tentang pentingnya menjaga ingatan kolektif, aksara leluhur, sastra daerah, seni tradisi, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat lembur agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini.

 

Ratusan warga dan pemuda setempat tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian kegiatan. Suasana semakin semarak dengan hadirnya pertunjukan seni, sastra, pameran, workshop, hingga ruang kreativitas yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Baca Juga  Edarkan Sabu Saat Ramadhan, Seorang Pemuda Diringkus Satres Narkoba Polres Purwakarta

 

Merawat Ingatan Leluhur Lewat Aksara dan Sastra

Salah satu daya tarik festival adalah upaya memperkenalkan kembali warisan literasi dan budaya kepada generasi muda. Pameran naskah serta ruang edukasi menjadi sarana bagi pengunjung untuk mengenal aksara dan peninggalan pengetahuan leluhur yang selama ini semakin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

 

Para pelajar dan anak muda juga mendapatkan ruang untuk belajar menulis, mengenal aksara daerah, serta menuangkan gagasan melalui karya sastra. Konsep tersebut menjadikan festival bukan hanya tontonan, tetapi juga ruang belajar yang mempertemukan tradisi dengan kreativitas generasi baru.

 

Rangkaian acara turut diisi loka karya menulis dan aksara, pameran serta pembahasan naskah kuno, panggung seni dan sastra, musik tradisi, teater rakyat, hingga berbagai kegiatan edukasi dan kreativitas masyarakat.

 

“Kawin Cai”, Simbol Kebersamaan dan Kehidupan

Tema “Kawin Cai” menjadi simbol pertemuan, keterhubungan, dan keberlanjutan kehidupan. Filosofi tersebut selaras dengan semangat festival yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam satu ruang kebudayaan.

Baca Juga  Hari Jadi Kabupaten Bekasi Ke -74, Kecamatan Cabangbungin Gelar Gerak Jalan Sehat

 

Kehadiran Longser Kolaborasi dari Sanggar Tari Wening Arum & Agista Production, Teater Buradak Ngablu, serta Ex. Sasagon turut memperkuat karakter seni tradisi dalam festival.

 

Suasana semakin meriah dengan kehadiran sejumlah seniman Sunda sebagai guest star, di antaranya Ki Daus, Bahi Yusef, dan Ceu Popon.

 

Tak hanya seni pertunjukan, festival juga menghadirkan Pasar Lembur UMKM, pameran dan workshop lembur, gerakan sehat jasmani dan budaya, serta program Lembur Education. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan dapat berjalan beriringan dengan ekonomi kreatif, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

 

Desa sebagai Rumah Kebudayaan

Kepala Desa Kasomalang Kulon, Amirudin, bersama panitia dan masyarakat setempat menempatkan Festival Aksara Lembur sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas desa.

 

Menurutnya, desa tidak semestinya hanya dikenal karena potensi alam dan hasil buminya. Kekayaan budaya, tradisi, kreativitas, serta pengetahuan masyarakat juga merupakan aset penting yang harus dirawat.

Baca Juga  Sambang Kamtibmas Ke Petani, Cara Bhabinkamtibmas Polsek Campaka Dukung Asta Cita

 

Festival ini diharapkan mampu menjadi ruang regenerasi, sehingga generasi muda tidak hanya menjadi penonton kebudayaan, tetapi ikut menjadi pelaku yang menjaga dan mengembangkan warisan leluhur.

 

Semangat “merawat ingatan dan menghidupkan aksara” pun diharapkan tidak berhenti ketika panggung festival berakhir. Sebaliknya, semangat tersebut dapat terus tumbuh dalam kehidupan masyarakat dan melahirkan generasi muda yang mengenal, mencintai, serta bangga terhadap identitas budayanya sendiri.

 

Festival Aksara Lembur Vol. 2 akhirnya bukan sekadar perhelatan seni dan budaya. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan zaman tidak harus membuat masyarakat kehilangan akar sejarahnya. Tradisi dapat terus hidup ketika generasi muda diberi ruang untuk mengenal, memahami, dan menciptakannya kembali dalam wajah yang sesuai dengan zamannya.

A_SETIAWAN