JAKARTA, Markaberita.com – Rencana penyesuaian tarif layanan Transjabodetabek belakangan ini memicu perdebatan terkait efektivitasnya dalam agenda pengendalian polusi udara di ibu kota. Menanggapi hal tersebut, Barisan Jakarta (BAJA) angkat bicara dan menegaskan bahwa langkah ini perlu disikapi dengan perspektif yang lebih luas, terutama menyangkut keberlangsungan kualitas layanan transportasi massal.
Ketua Umum BAJA, R. Lintang Fisutama pada keterangan tertulisnya senin (29/06/26), menyoroti bahwa Transjakarta telah bertransformasi menjadi urat nadi mobilitas warga Jakarta. Dengan melayani lebih dari 1,4 juta perjalanan setiap hari dan mencatatkan total 413 juta perjalanan sepanjang 2025—dua kali lipat dibanding 2022—Transjakarta terbukti sukses mengalihkan pola mobilitas masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Lintang menegaskan bahwa pergeseran perilaku inilah yang menjadi kunci utama pengurangan konsumsi bahan bakar fosil dan menekan laju emisi kendaraan di Jakarta.
Sebagai wujud komitmen lingkungan, Transjakarta tidak hanya berfokus pada volume pengguna, tetapi juga modernisasi armada. Saat ini, 500 unit bus listrik telah mengaspal dengan zero tailpipe emission. Integrasi layanan pun semakin kuat, menjangkau 92,4 persen wilayah Jakarta melalui 244 rute dan 5.000 lebih armada yang terkoneksi dengan MRT, LRT, hingga Kereta Cepat Whoosh. Ditambah dengan kebijakan internal Pemprov DKI yang mewajibkan ASN menggunakan angkutan umum setiap hari Rabu, upaya pengendalian polusi udara kini dilakukan secara lebih sistemik dan terpadu.
Terkait kekhawatiran bahwa penyesuaian tarif akan merugikan masyarakat, BAJA menilai subsidi Pemprov DKI sejauh ini telah dikelola dengan efisiensi yang ketat. Data menunjukkan subsidi per pelanggan turun 14 persen dibandingkan 2022 di tengah kenaikan biaya operasional. Subsidi ini juga tetap memprioritaskan mereka yang membutuhkan, melalui 25 juta perjalanan via Kartu Layanan Gratis (KLG) bagi lansia, penyandang disabilitas, hingga tenaga pendidik. Secara ekonomi, setiap Rp1 triliun subsidi mampu memberikan multiplier effect senilai Rp3,2 triliun bagi perekonomian nasional, termasuk penciptaan 32 ribu lapangan kerja per tahun.
BAJA menekankan bahwa prioritas masyarakat adalah kualitas pelayanan yang mencakup aspek keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu. Penyesuaian tarif dipandang sebagai langkah rasional untuk menjamin keberlanjutan operasional, modernisasi, dan perluasan jaringan layanan yang lebih baik.
Lebih lanjut, BAJA mengajak berbagai pihak untuk melihat persoalan lingkungan secara proporsional. Masih ada tantangan lingkungan yang jauh lebih mendesak, seperti darurat pengelolaan sampah. BAJA berharap energi advokasi publik juga dapat diarahkan ke isu tersebut, mengingat Transjakarta telah membuktikan perannya sebagai solusi nyata bagi kualitas udara Jakarta, bukan sebaliknya. Kebijakan ini diharapkan dapat memastikan Transjakarta tetap tangguh menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan yang berkelanjutan.(Red).
#Transjakarta #TransportasiMassal #PembangunanJakarta #KebijakanPublik #MarkaBerita #JakartaHijau






