Pengerjaan Proyek Aspal di Gang Keramik Kp. Cihideng Asal Jadi diduga tidak sesuai spesifikasi
*PURWAKARTA* – Proyek pengaspalan Gang Keramik, Kampung Cihideng, Desa Mulyamekar, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, kembali menuai sorotan publik. Pekerjaan yang dilaksanakan di lokasi tersebut diduga dikerjakan asal jadi tanpa memperhatikan spesifikasi teknis.
Akibat lemahnya pengawasan dari instansi terkait, masyarakat penerima manfaat menjadi pihak yang paling dirugikan. Sementara itu, kontraktor diduga meraup keuntungan besar dari proyek senilai Rp569.072.110 yang bersumber dari APBD.
Dari pantauan awak media di lapangan, pekerjaan yang dilakukan oleh CV. PUTRA BONGAS tampak jauh dari standar kualitas. Pinggiran aspal hotmix yang telah dilalui kendaraan terlihat mudah terkelupas dan bahkan dapat dikupas dengan tangan. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya dugaan masalah pada mutu pekerjaan.
Proyek “Pekerjaan Pemeliharaan di Gang Keramik Kp. Cihideng” ini menggunakan dana APBD dengan nilai kontrak Rp569.072.110 dan masa kerja 30 hari kalender. Namun, hasil di lapangan menunjukkan adanya kejanggalan. Berdasarkan pantauan pada 5 Juni 2026, pekerjaan tampak dikerjakan dalam waktu sangat singkat. Diduga kuat terjadi _mark-up_ harga dan manipulasi volume pekerjaan.
Seorang warga sekitar berinisial ( YA ) yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa proses pengerjaan proyek tidak transparan. “Awalnya hanya dilakukan pemadatan beberapa meter dan pasang U-ditch. Setelah itu baru dilakukan pengaspalan pada malam hari. Panjang jalan yang dikerjakan tidak ada di papan volume,” ujarnya.
( YA ) juga menambahkan bahwa proyek tersebut dikhawatirkan mudah terkikis jika hujan deras karena lapisan aspal sangat tipis. Papan proyek yang terpasang tidak mencantumkan volume pekerjaan ataupun rincian panjang dan lebar jalan yang diaspal. “Kalau kita lihat dari volume dan dana yang dicantumkan di papan informasi, pasti untung besar,” katanya.
Warga tersebut bahkan mencoba memperkirakan hitungan kasarnya. “Lebar, tebal, panjangnya nggak jelas. Kalau dikalikan, nggak sebanding dengan nilai proyeknya. Coba saja cari tahu sendiri berapa harga per kubik aspal hotmix,” tambahnya. Ucapan itu mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap transparansi penggunaan anggaran publik.
Hingga berita ini diturunkan, pihak DPUTR Kabupaten Purwakarta belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan kejanggalan proyek tersebut. berharap ada audit menyeluruh terhadap proyek-proyek sejenis yang menggunakan dana publik, terutama yang bersumber dari APBD. Selama ini, proyek infrastruktur di Kabupaten Purwakarta kerap tidak menampilkan rincian volume pekerjaan pada papan proyek dan hanya mencantumkan nilai anggaran. Kondisi ini membuat masyarakat semakin curiga adanya praktik penyimpangan.
Masyarakat kini berharap aparat penegak hukum (APH) turut turun tangan mengusut indikasi korupsi dalam proyek tersebut. Transparansi, pengawasan ketat, dan tanggung jawab dari pihak terkait menjadi kunci agar rakyat tidak lagi menjadi korban proyek asal jadi yang hanya menguntungkan segelintir pihak. ( Saepul.Bahari )






