Paul Krugman: Kebijakan Energi Trump Secara Tak Langsung Percepat Transisi Global ke Energi Hijau

​JAKARTA, markaberita.com — Di tengah langkah agresif pemerintahan Amerika Serikat yang cenderung menghambat sektor energi terbarukan, sebuah analisis tajam muncul dari ekonom terkemuka Amerika Serikat, Paul Krugman. Krugman merupakan peraih Hadiah Nobel Memorial dalam Ilmu Ekonomi tahun 2008 atas kontribusinya pada Teori Perdagangan Baru dan Geografi Ekonomi.

​Melalui kolom opininya, Krugman menyoroti paradoks kebijakan energi Presiden Donald Trump yang, secara ironis, justru menjadi katalisator bagi akselerasi transisi energi hijau di tingkat global.

​Krugman menyoroti langkah kontroversial pemerintahan Trump yang membayar pengembang energi, Invenergy, sebesar US$765 juta. Pembayaran tersebut ditujukan agar pengembang membatalkan tiga proyek ladang angin lepas pantai yang telah direncanakan selama bertahun-tahun.

​Secara total, pemerintahan Trump telah mengalokasikan hingga US$2,5 miliar uang pajak hanya untuk menghentikan berbagai proyek energi bersih yang secara ekonomi sebenarnya sudah layak dan menguntungkan. Krugman menilai langkah ini sangat ironis, terutama di saat masyarakat Amerika sedang bergulat dengan lonjakan harga listrik akibat tingginya permintaan dari pusat data serta fluktuasi harga bahan bakar fosil.

Baca Juga  Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi, Prof. Ngatindriatun Gagas Smart Farming 5.0 Untuk Mendukung SDGs

​”Efek Iran” dan Pelajaran bagi Dunia

​Poin krusial dalam analisis ini adalah dampak geopolitik dari ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Krugman berpendapat bahwa perang yang dipicu oleh kebijakan luar negeri Trump telah menjadi “bumerang” yang memaksa negara-negara dunia untuk mempercepat langkah melepaskan diri dari ketergantungan pada bahan bakar fosil.

​”Dunia telah mengambil pelajaran berharga tentang risiko ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik,” tulis Krugman.

​Negara-negara yang telah melakukan investasi besar pada energi terbarukan, seperti Spanyol, terbukti jauh lebih resilien (tangguh) dalam menghadapi lonjakan harga gas alam global dibandingkan negara yang masih bergantung pada pasokan impor konvensional.

​Menggugurkan Mitos Ketidakandalan Energi Terbarukan

​Salah satu sorotan utama dalam tulisan ini adalah bantahan terhadap argumen pejabat pemerintahan Trump yang mengklaim bahwa energi surya dan angin tidak dapat diandalkan saat matahari terbenam. Krugman merujuk pada keberhasilan California dalam mengintegrasikan teknologi baterai skala besar untuk menjaga stabilitas pasokan listrik sepanjang waktu.

Baca Juga  Token Palapa Dinilai Punya Potensi Pertumbuhan Hingga 10X Lipat

​”California kini dengan cepat menjadi ekonomi yang ditenagai oleh energi surya pada siang hari dan baterai pada malam hari,” jelas Krugman.

​Sebagai penutup, Krugman menyimpulkan bahwa tindakan Amerika di bawah pemerintahan Trump—yang kini dipandang sebagai pemasok energi yang tidak bisa diandalkan—telah memaksa dunia untuk mencari alternatif energi yang lebih mandiri dan aman.

​”Oleh karena itu, secara praktis, Donald Trump justru telah menjadi juara energi hijau dunia,” pungkas Krugman dengan nada sarkastis.(Red).

​Artikel ini merupakan terjemahan dari opini Paul Krugman yang dipublikasikan pada 19 Juni 2026. Pandangan yang tertuang dalam artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis asli dan tidak mencerminkan sikap maupun posisi redaksi markaberita.com. Publikasi ini bertujuan sebagai referensi wawasan mengenai debat kebijakan energi global yang sedang berlangsung.

Baca Juga  COATING FOODSAFE: Syarat Untuk Kemasan Makanan yang Sudah Memenuhi Standar

#EnergiTerbarukan #PaulKrugman #KebijakanEnergi #TransisiEnergi #Geopolitik #MarkaBerita #IsuGlobal #GreenEnergy #Ekonomi #BeritaInternasional #markaberita