Kritik Tajam Ichsanuddin Noorsy: Kebijakan Pertamax Adalah Kebohongan Publik yang Mencekik Rakyat

Ekonomi, Nasional95 Dilihat

​JAKARTA, markaberita.com – Pakar ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy, meradang menanggapi klaim Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut kenaikan harga BBM nonsubsidi (Pertamax) tidak berdampak signifikan bagi ekonomi nasional. Noorsy secara tegas menyebut narasi pemerintah tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap realitas pahit yang sedang menghimpit rakyat.

​Ia tidak sekadar mengkritik, namun menuding bahwa klaim “dampak minim” adalah cara pemerintah menutup mata dari efek destruktif yang akan segera menghantam ekonomi kelas menengah dan bawah.

​“Kalau ada pejabat yang berani bilang kenaikan Pertamax tidak berpengaruh, itu adalah pernyataan yang menyesatkan dan jauh dari realitas. Kebijakan ini secara sistemik memicu inflasi, memukul daya beli, dan secara perlahan mencekik ekonomi rakyat,” kecam Noorsy saat dihubungi markaberita.com, Jum’at (12/6).

Baca Juga  Di Balik Stagnasi 5 Persen: Krisis Public Distrust dan Ancaman Infiltrasi Kedaulatan

Noorsy membedah data dengan tajam: dengan bobot BBM dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 2 hingga 3 persen—bahkan tembus 4 persen saat musim liburan—kenaikan Pertamax adalah suntikan inflasi yang tak terelakkan. Dengan konsumsi nasional yang mencapai 27 persen, kenaikan ini akan secara otomatis menyumbang inflasi sebesar 0,8 hingga 1 persen.

​Baginya, angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan beban nyata yang harus ditanggung masyarakat dan korporasi.

Lebih jauh, Noorsy menegaskan bahwa kebijakan ini adalah “bom waktu” bagi dunia usaha. Ketika biaya operasional membengkak karena kendaraan perusahaan dipaksa menelan harga Pertamax yang mahal, sektor produksi akan lumpuh.

​“Ini adalah beban ganda yang mematikan. Perusahaan tercekik biaya operasional, sementara masyarakat harus menanggung harga barang yang naik akibat inflasi. Jika pemerintah terus memakai narasi ‘dampak minim’ untuk menutupi kenyataan bahwa ekonomi sedang menuju titik nadir, maka rakyat lah yang akan menjadi korban utama,” pungkas Noorsy dengan nada keras.

Baca Juga  Resmikan 4 Program Baru, BINUS University Fakultas Humaniora Siapkan Gen-Z yang Bertalenta untuk Hadapi Persaingan Global

​Noorsy mendesak pemerintah untuk berhenti berlindung di balik data-data yang dipoles dan segera melakukan intervensi nyata sebelum daya beli masyarakat benar-benar ambruk di tengah kebijakan yang tidak berpihak ini.(Red).

​#IchsanuddinNoorsy #Pertamax #Inflasi #EkonomiIndonesia #BBM #DayaBeli #KebijakanEkonomi #BeritaEkonomi #KritikTajam #PurbayaYudhiSadewa #EkonomiRakyat #GagalPaham