Kritik Matahari Ungu: Melly Goeslaw Soroti Kreativitas Siswa SD yang Terbelenggu Aturan Kaku

Nasional, Pendidikan507 Dilihat

​BANDUNG, Markaberita.com – Anggota Komisi X DPR RI, Melly Goeslaw, melayangkan kritik tajam terhadap pola pengajaran guru seni di tingkat Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, cara mengajar yang terlalu kaku dan membatasi imajinasi menjadi penghambat utama lahirnya kreativitas serta inovasi anak didik di masa depan.

​Dalam kunjungannya ke Sanggar Olah Seni, Babakan Siliwangi, Bandung, Senin (1/6/2026), Melly menyoroti bagaimana batasan-batasan dalam pelajaran seni justru menjadi “pembunuh” potensi anak untuk berpikir out of the box.

​Melly menceritakan pengalaman pribadinya saat duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengenang bagaimana gurunya memarahi dirinya hanya karena ia mewarnai gambar matahari dengan warna ungu.

​”Kalau saya kasih warna matahari ungu, dicarekan (dimarahi). Guru saya dulu hanya memberi toleransi jika matahari berwarna jingga. Ungu dianggap salah,” ungkap musisi papan atas tersebut.

Baca Juga  Presiden Jokowi Terima Surat Kepercayaan Sebelas Duta Besar Negara Sahabat

​Baginya, tindakan menyalahkan imajinasi anak adalah hal yang fatal. Ia menilai, pola pengajaran seperti ini merupakan akar masalah mengapa Indonesia masih sulit melahirkan karya-karya besar berbasis fantasi yang mendunia, seperti novel Harry Potter karya J.K. Rowling.

​”Karena imajinasi kita selalu dibatasi. Baru mau aneh sedikit, langsung dianggap salah. Padahal, hal-hal ‘aneh’ itulah cikal bakal karya luar biasa,” tegasnya.

​Sebagai langkah konkret, Melly mendorong para seniman dan perupa untuk turun tangan memberikan masukan kepada para guru seni di SD. Ia berharap ada perubahan paradigma dalam mengajar, di mana guru tidak lagi menjadi sosok yang membatasi, melainkan pendukung yang memantik imajinasi siswa.

Baca Juga  GP Ansor Jakarta Timur Panaskan Mesin Organisasi, Gelar Pra Musker III: Konsolidasi Total Menuju Kaderisasi Militan dan Organisasi Berdampak!

​”Kreativitas itu tidak boleh dipasung dengan standar yang kaku. Kita harus mulai menghargai keunikan cara pandang anak agar mereka berani bermimpi dan berkarya lebih luas,” tutupnya.(Red).