Bank Mandiri: Sinergi Kebijakan Fiskal-Moneter Perkuat Rupiah dan Dorong Rebound IHSG

Ekonomi, Nasional74 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com – Bank Mandiri menilai penguatan nilai tukar Rupiah serta rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir merupakan buah dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin solid. Komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi terbukti berhasil meningkatkan kepercayaan investor di tengah dinamika pasar global.

​Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menegaskan bahwa kehadiran aktif pemerintah dan Bank Indonesia (BI) di pasar menjadi kunci utama dalam memperbaiki sentimen investor.

​”Penguatan Rupiah dan rebound IHSG tidak terlepas dari koordinasi fiskal dan moneter yang solid, serta implementasi kebijakan yang nyata di lapangan,” ujar Andry, minggu (27/06/26).

​Sinyal positif terlihat dari perbaikan kurva imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), terutama pada tenor panjang, yang kembali menarik minat investor asing. Setelah sempat mengalami outflow sepanjang tahun (year-to-date), pasar obligasi Indonesia kini mencatat arus masuk (inflow) dalam dua pekan terakhir, yang menjadi indikator kuat kembalinya kepercayaan terhadap aset domestik.

Baca Juga  Workshop Public Speaking di SMP Providentia: 4 Teknik Presentasi bersama Coach Priska Sahanaya, Pronas dan Sinotif

​Pemerintah juga mendapatkan apresiasi atas efektivitas refocusing dan realokasi anggaran. Pengalihan anggaran ke sektor-sektor produktif—seperti infrastruktur transportasi, logistik, telekomunikasi, serta digitalisasi dan pemberdayaan UMKM—dinilai mampu memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang sekaligus menyerap tenaga kerja.

​Di sisi moneter, Bank Indonesia terus memperkuat stabilitas melalui:

  • ​Intervensi Terukur: Langkah proaktif di pasar valuta asing untuk menjaga volatilitas Rupiah.
  • ​Optimalisasi Devisa: Peningkatan pasokan devisa hasil ekspor.
  • ​Local Currency Transaction (LCT): Mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan lintas batas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat sistem keuangan domestik.

​Andry menambahkan, meskipun terdapat sentimen positif dari meredanya tensi geopolitik dan penurunan harga minyak dunia di bawah USD 80 per barel, pasar tetap diminta waspada terhadap volatilitas global, terutama kebijakan suku bunga The Fed.

Baca Juga  Mocaverse Luncurkan Football ID: Rahasia Baru yang Harus Diketahui Semua Penggemar Sepak Bola!

​Namun, Bank Mandiri tetap optimistis karena fundamental ekonomi Indonesia tetap solid:

  • ​Pertumbuhan Ekonomi: Diproyeksikan stabil di kisaran 5 persen.
  • ​Inflasi: Terjaga sesuai target Bank Indonesia.
  • ​Cadangan Devisa: Berada di kisaran USD 144–145 miliar, setara dengan lebih dari lima bulan impor, memberikan bantalan yang cukup bagi stabilitas nilai tukar.

​Bank Mandiri menyoroti sektor transportasi, logistik, makanan-minuman, perdagangan, serta telekomunikasi sebagai motor pertumbuhan utama. Selain itu, sektor pertanian dan manufaktur memiliki potensi besar untuk ditingkatkan melalui insentif fiskal dan pembiayaan yang tepat sasaran.

​”Kebijakan terintegrasi, pengelolaan fiskal yang prudent, dan komunikasi kebijakan yang jelas memperkuat kepercayaan investor. Jika reformasi struktural terus berlanjut dan proyek strategis dipercepat, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melampaui 5,5 persen secara berkelanjutan,” tutup Andry.

Baca Juga  Ucapan "Ndasmu" di Hadapan Petani dan Nelayan Berujung Polemik, Wartawan Disebut Diminta Hapus Rekaman

​Bank Mandiri berkomitmen untuk terus mendukung langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas makro dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan di tengah tantangan global.(Red).