JAKARTA, Markaberita.com – Ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) cabang panjat tebing yang berlangsung di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (26/05/2026), diwarnai ketegangan. Keikutsertaan atlet binaan Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (POPB) memicu protes keras dari pihak sekolah, lantaran dianggap melanggar kesepakatan krusial yang telah dicapai dalam forum Technical Meeting (TM).
Guru dari SMP Al Wildan, Ustazah Riska, secara terbuka menyuarakan keberatannya di lokasi pertandingan. Menurutnya, keputusan panitia yang meloloskan atlet POPB adalah bentuk inkonsistensi yang mencederai integritas kompetisi.
”Kami sangat menyayangkan ini terjadi. Dalam Technical Meeting, sudah ada keputusan bulat bahwa atlet binaan pemerintah melalui POPB tidak diperbolehkan bertanding di O2SN. Keputusan tersebut dibuat untuk menjaga keadilan bagi siswa yang berlatih secara mandiri di sekolah,” tegas Ustazah Riska.
Ia menambahkan, kehadiran atlet dengan porsi pembinaan khusus dari pemerintah menciptakan kesenjangan performa yang kontradiktif dengan esensi O2SN sebagai ajang pencarian bakat di tingkat pendidikan formal.
Menanggapi gejolak tersebut, Koordinator O2SN Panjat Tebing Wilayah II Jakarta Pusat, Willy Wiranda, memberikan klarifikasi. Ia menyatakan bahwa pihak panitia tetap berpedoman pada Petunjuk Teknis (Juknis) resmi yang diterbitkan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).
”Kami melakukan seleksi administrasi ketat sesuai juknis. Memang, POPB tidak disebutkan secara gamblang, namun secara substansi, mereka setara dengan PPLPD yang merupakan program pembinaan di bawah Dispora. Kami memastikan kegiatan ini tetap berjalan di atas koridor aturan yang ditetapkan pemerintah,” ujar Willy.
Hingga saat ini, polemik masih berlanjut akibat adanya jurang interpretasi antara hasil kesepakatan lokal di Technical Meeting dengan regulasi pusat yang diterapkan panitia. Belum ada pernyataan resmi dari pihak penyelenggara tingkat provinsi yang mampu menjawab keresahan para peserta terkait ambiguitas aturan ini.
Insiden ini menjadi catatan merah bagi penyelenggaraan O2SN tahun ini. Pihak sekolah mendesak agar panitia pelaksana lebih transparan dan konsisten dalam memegang teguh kesepakatan bersama, demi menjamin iklim kompetisi yang adil bagi seluruh siswa di masa mendatang.(Red).






