JAKARTA, Markaberita.com – Hari ini, 20 Mei 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Momentum sejarah ini sejatinya tidak hanya dirayakan sebagai seremoni tahunan, melainkan harus dijadikan ajang refleksi jujur atas realitas yang sedang dihadapi bangsa. Di tengah situasi global dan domestik yang penuh tekanan, kejujuran dalam melihat kondisi negara menjadi langkah awal menuju kebangkitan yang hakiki.
Kita harus berani mengakui bahwa kondisi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Narasi kesuksesan semu tidak lagi mampu menutupi rentetan ujian ekonomi struktural yang menghantam langsung hajat hidup orang banyak. Kita sedang menyaksikan krisis biaya hidup dan penurunan daya beli yang nyata. Fluktuasi nilai tukar Rupiah yang menyentuh titik terendah sepanjang sejarah berimbas pada lonjakan harga kebutuhan pokok, melemahnya daya beli rumah tangga, menyempitnya lapangan kerja, hingga tergerusnya tabungan masyarakat.
Ketergantungan impor kita juga berada pada tingkat akut. Hajat hidup orang banyak—mulai dari energi, bahan baku industri, hingga bahan penolong—sebagian besar masih bergantung pada impor, membuat ekonomi kita sangat rentan terhadap kejutan harga global. Selain itu, neraca jasa kita terus mengalami defisit yang berkelanjutan, mencerminkan lemahnya daya saing industri jasa domestik di kancah internasional. Kita juga sedang menghadapi ancaman deindustrialisasi dini, di mana kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB terus menurun, membatasi penciptaan lapangan kerja berkualitas dan memperlemah fundamen ekonomi.
Tantangan di depan diprediksi akan semakin panjang dan berlipat ganda. Ketegangan geopolitik dan konflik di Timur Tengah membayangi stabilitas ekonomi global. Di sisi lain, para ilmuwan telah mengingatkan hadirnya fenomena cuaca El Niño terkuat dalam sejarah pengamatan, yang mengancam ketahanan pangan nasional. Ketika krisis ekonomi struktural dan ancaman iklim datang bersamaan, beban yang dipikul bangsa ini jelas menjadi berkali-kali lipat lebih berat.
Pola kebijakan ekonomi belakangan ini juga mengkhawatirkan. Kita melihat SBN semakin didominasi oleh motif finansialisasi, bukan sebagai instrumen pembiayaan pembangunan yang produktif, yang meningkatkan risiko spekulasi dan ketidakstabilan di pasar keuangan. Hampir semua sektor ekonomi kini tampak semakin komersial, dengan FFR yang tinggi di pasar modal namun minim dampak pada sektor riil, menciptakan ketimpangan yang semakin lebar. Kebijakan SBI yang cenderung bersandar pada ekonomi “khayalan”—di mana spekulasi moneter lebih dominan daripada pertumbuhan sektor riil—memperlemah fundamen ekonomi jangka panjang. Terakhir, beban utang negara yang terus meningkat menciptakan tekanan yang semakin berat pada APBN dan masa depan generasi mendatang.
Dalam situasi krisis yang kompleks ini, yang paling dibutuhkan oleh pelaku pasar, investor, dan publik secara luas adalah kepastian. Namun, kepastian yang sejati tidak akan pernah lahir dari ketenangan semu atau narasi-narasi manis yang menutupi realitas. Ia hanya bisa tumbuh dari transparansi, kejujuran, serta arah kebijakan yang jelas dan konsisten dari pemerintah. Sangat disayangkan, pola komunikasi publik belakangan ini kerap membingungkan, dengan kecenderungan memilih-milih data, pernyataan pejabat yang terkesan enteng atau gurauan, serta kebijakan yang berubah-ubah. Alih-alih menenangkan, hal ini membuat pasar bingung dan investor menarik modalnya. Publik juga merindukan hadirnya keteladanan dari para pemimpin, di tengah kebijakan yang kurang sensitif terhadap skala prioritas dan kesan pemborosan di tingkat atas yang mencederai rasa keadilan sosial.
Peringatan keras sejatinya sudah datang dari berbagai arah, baik dari para ekonom dalam negeri, lembaga keuangan internasional, hingga media-media bereputasi. Tidak mungkin semua pihak keliru dalam waktu yang bersamaan. Karena yang dipertaruhkan adalah hajat hidup ratusan juta rakyat, situasi ini wajib diperlakukan dengan tingkat keseriusan yang sepadan.
Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, Markaberita.com mendesak pembuat kebijakan untuk mengambil langkah-langkah strategis: hentikan narasi penenang yang semu, buka data apa adanya, dan sampaikan setiap tantangan bangsa secara jujur; berikan kepastian regulasi yang jelas, ajeg, dan tidak berubah-ubah untuk memulihkan kepercayaan pasar; prioritaskan kebijakan yang mengatasi ketergantungan impor, mengatasi defisit jasa, mendorong reindustrialisasi, dan mengurangi tekanan utang yang tidak berkelanjutan; serta tunjukkan keteladanan dari tingkat atas hingga bawah dengan memprioritaskan anggaran pada sektor-sektor yang langsung menyentuh kebutuhan mendasar rakyat.
Kepada seluruh lapisan masyarakat, mari kita bersiap dengan rasionalitas tinggi. Suka atau tidak suka, masa-masa berat akibat krisis ekonomi struktural dan tantangan alam masih berada di depan mata. Namun, kesiapan ini tidak boleh memadamkan optimisme kita. Indonesia adalah bangsa yang tangguh dan selalu berhasil melewati berbagai krisis besar di masa lalu. Kita pasti bisa melewati badai ini bersama-sama, asalkan kita melangkah dengan mata terbuka dan berbasis pada realitas, bukan pada ilusi yang dibuat-buat. Kuncinya hanya satu: mari kita serius mengurus bangsa ini.(Red).






