JAKARTA, Markaberita.com – Belakangan ini, sebuah penggalangan narasi dari pidato kepresidenan memicu riuh di ruang publik. Dalam pernyataannya, Presiden menekankan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak perlu disikapi dengan kepanikan yang berlebihan, terutama oleh masyarakat arus bawah. Argumen yang dilemparkan cukup sederhana, bahkan cenderung populis: “Orang desa tidak pakai dolar, mereka pakainya rupiah.”
Sekilas, pernyataan ini terdengar seperti angin segar yang menenangkan—sebuah upaya untuk membangun resiliensi mental bangsa agar tidak mendewakan mata uang asing. Namun, jika kita membedah anatomi ekonomi modern, premis tersebut sayangnya terlalu menyederhanakan realitas yang rumit. Jika tidak boleh disebut sebagai sebuah kenaifan ekonomi, narasi ini berisiko mengaburkan dampak sistemik yang nyata di lapangan.
Rantai Pasok Global yang Menembus Batas Desa
Benarkah orang desa imun terhadap keperkasaan dolar? Jawabannya jelas: tidak. Mereka justru kelompok yang paling rentan terdampak.
Ekonomi hari ini tidak bergerak dalam sekat-sekat isolasi. Desa dan kota, domestik dan global, semuanya terikat dalam satu rantai pasok yang saling berkelindan. Mari kita bedah bagaimana dolar “menyusup” ke dapur masyarakat pedesaan:
Sektor Pertanian & Peternakan: Petani di desa memang bertransaksi menggunakan rupiah saat membeli pupuk atau pakan ternak di toko kelontong. Namun, bahan baku pupuk kimia dan komponen utama pakan ternak tersebut sebagian besar masih diimpor menggunakan dolar. Ketika dolar perkasa, biaya produksi petani otomatis meroket.
Kebutuhan Pokok Harian: Tahu dan tempe, makanan rakyat yang menjadi pilar gizi di pedesaan, mayoritas diproduksi dari kedelai impor. Begitu pula dengan tepung terigu yang menjadi bahan baku mi instan. Lonjakan dolar otomatis mengerek harga di atas piring nasi warga desa.
Energi dan Transportasi: Mobilitas warga desa dan distribusi hasil panen sangat bergantung pada BBM. Sebagian minyak mentah kita diperoleh lewat skema impor. Jika APBN jebol karena menahan laju dolar, subsidi energi terancam dipangkas, dan efek domino kenaikan harga barang di pasar desa tak lagi bisa dibendung.
Faktanya: Warga desa memang tidak memegang fisik lembaran dolar di dompet mereka. Namun, fluktuasi dolar nyata menyusup ke dalam harga semangkuk bakso, sekarung pupuk, dan biaya hidup harian mereka.
Bahaya Meninabobokan Publik dengan Retorika
Sebagai pemimpin tertinggi, menenangkan psikologis pasar dan menjaga kondusifitas masyarakat di tengah ketidakpastian global adalah sebuah keharusan. Narasi yang optimis dibutuhkan agar tidak terjadi panic buying atau spekulasi valas yang destruktif.
Namun, ada batas tipis antara menenangkan dan meninabobokan.
Menyederhanakan masalah makroekonomi menjadi sekadar “urusan orang kota” atau “komoditas orang kaya” berisiko membuat publik—dan para pengambil kebijakan di tingkat daerah—lengah. Ketika masyarakat diyakinkan bahwa mereka “aman,” kita justru kehilangan momentum emas untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi potensi inflasi yang mengintai di depan mata.
Catatan Markaberita: Jauhkan Retorika, Perkuat Mitigasi
Markaberita.com memandang bahwa pemerintah tidak boleh berlindung di balik retorika populis. Menghadapi gejolak ekonomi global memerlukan kejujuran komitmen dan langkah konkret, bukan sekadar penenteram hati yang semu.
1. Pertebal Jaring Pengaman Sosial: Pemerintah harus memastikan penguatan bantalan sosial (seperti bansos dan subsidi tepat sasaran) benar-benar siap menahan benturan inflasi di tingkat pedesaan.
2. Genjot Substitusi Impor: Insentif untuk sektor pertanian dan pangan lokal harus digenjot secara masif agar ketergantungan kita pada pasokan luar negeri dapat dikurangi secara bertahap.
Rakyat tidak butuh diyakinkan bahwa mereka tidak menggunakan dolar. Rakyat hanya butuh kepastian bahwa ketika dolar sedang mengamuk di luar sana, daya beli rupiah di dompet mereka tetap perkasa untuk membeli beras, menyekolahkan anak, dan menjaga dapur tetap mengepul. Dititik inilah pemerintah harus hadir dengan kebijakan, bukan sekadar diksi.(Red).




