88 Persen “Emas Hijau” Indonesia Masih Mengendap, Sekjen API Ungkap Tantangan Investasi

Ekonomi, Nasional178 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com – Indonesia menyimpan harta karun energi terbarukan melalui panas bumi (geothermal) yang mencapai 24.000 megawatt (MW). Sayangnya, baru sekitar 2.740 MW atau 12 persen saja yang berhasil dimanfaatkan sebagai sumber listrik nasional.

​Sekretaris Jenderal Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), Riza Pasikki, menegaskan bahwa sisa 88 persen potensi tersebut merupakan peluang besar yang masih menunggu untuk diolah menjadi energi bersih yang berkelanjutan.

​“Masih ada sekitar 88 persen yang belum dimanfaatkan. Potensinya sangat besar,” ungkap Riza dalam program Prime Time INAnews TV, Rabu (20/5/26).

​Riza menjelaskan, panas bumi adalah salah satu energi yang paling efisien dan berkelanjutan. Berbeda dengan energi fosil, panas bumi bersifat siklikal. Fluida yang diambil untuk menghasilkan listrik akan diinjeksikan kembali ke reservoir untuk dipanaskan ulang oleh magma di bawah permukaan bumi.

Baca Juga  Tip & Trik Memanfaatkan Software Kasir POS dalam Bisnis Anda

​Selain itu, panas bumi memiliki rekam jejak emisi yang sangat minim. “Emisi karbon yang dihasilkan hanya sekitar 0,1 persen dibandingkan pembangkit listrik tenaga batu bara dengan kapasitas yang sama,” tambahnya.

​Pemerintah Indonesia telah menetapkan target penambahan kapasitas panas bumi sebesar 5.200 MW dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Target ambisius ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Paris Agreement untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

​Namun, jalan menuju target tersebut tidak mudah. Riza mengungkapkan bahwa industri panas bumi menghadapi tantangan berat dari sisi keekonomian. Dengan model bisnis yang padat modal (capital intensive) dan risiko eksplorasi yang tinggi, tarif listrik yang diatur dalam Perpres Nomor 112 Tahun 2022 saat ini dinilai kurang atraktif bagi investor.

Baca Juga  Indigo dan Pengusaha Kreatif Jaya Ajak Startup Belajar Cara Pitching yang Efektif

​“IRR (Internal Rate of Return) proyek panas bumi saat ini sangat tidak atraktif, bahkan di bawah 5 persen. Industri membutuhkan insentif fiskal dan kepastian regulasi yang konsisten,” tegas Riza.

​Dalam kesempatan tersebut, Riza juga menepis kekhawatiran masyarakat terkait dampak operasional panas bumi. Ia menegaskan bahwa aktivitas pengeboran tidak akan mengganggu cadangan air tanah karena reservoir berada di kedalaman 2.000–3.000 meter, jauh di bawah sumur warga.

​Terkait isu penggunaan lahan, ia menjelaskan bahwa fasilitas produksi di permukaan hanya membutuhkan lahan yang relatif kecil (maksimal 300 hektare) dibandingkan dengan skala pembukaan lahan pada tambang terbuka batu bara.

​Mengenai aspek keselamatan kerja, Riza memastikan pihaknya telah melakukan perbaikan besar pasca-insiden di Sorik Marapi tahun 2021. “Sejak kejadian tersebut, tidak ada lagi fatalitas akibat paparan H2S,” jelasnya.

Baca Juga  Satpol PP Kecamatan Sukatani Melakukan Giat Kebersihan

​Lebih dari sekadar listrik, panas bumi diproyeksikan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di kawasan Indonesia Timur. Riza mencontohkan keberhasilan di lapangan Hamiding, Maluku, sebagai bukti nyata.

​“Kalau ketahanan listrik di daerah meningkat, investasi industri seperti cold storage hingga smelter akan masuk. Geotermal bisa menjadi pemantik ekonomi yang pada akhirnya mendongkrak ekspor daerah,” pungkas Riza.(Red).