MARKABERITA.ID | Jakarta, 1 Maret 2026 – Dunia kembali tersentak. Malam Ahad yang biasanya menjadi waktu hangat bersama keluarga berubah menjadi kecemasan kolektif. Eskalasi militer besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap 24 provinsi di Iran telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta petinggi Garda Revolusi. Tragedi ini bukan sekadar angka statistik kurban jiwa sebanyak 275 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, melainkan sinyal bahaya bagi stabilitas ekonomi dan kedaulatan bangsa-bangsa, termasuk Indonesia.
Menanggapi situasi tersebut, ekonom senior Ichsanuddin Noorsy memberikan catatan kritis melalui keterangan tertulisnya Minggu (1/3) , Noorsy menilai serangan ini adalah upaya sistematis Washington untuk memaksakan kepatuhan global. Sejak 1979, Iran tetap teguh sebagai negara petarung. Kematian Khamenei tidak akan menghentikan perlawanan; kaum muda Iran siap melanjutkan perjuangan syahid.
”Trump kembali menunjukkan taringnya. Mengikuti tesis Henry Kissinger, AS mengendalikan minyak untuk mengendalikan bangsa-bangsa. Ini adalah perang ekonomi dengan pendekatan struktural—penguasaan sumber daya strategis, penentuan produksi, hingga harga. AS sedang berjuang mengembalikan keperkasaan Greenback (Dolar AS) sebagai senjata hegemoni yang mulai terkikis sejak kekalahan manufaktur mereka dari China pada 2008,” ujar Noorsy.
Peringatan bagi Indonesia: Kebutuhan Pokok di Atas Diplomasi
Merespons situasi ini, Noorsy menekankan pentingnya Indonesia bersikap realistis. Mengutip pernyataan Mayor Jenderal Jacob Ariel (Israel), Indonesia diingatkan untuk lebih fokus membenahi kebutuhan pokok warga dan meningkatkan durasi ketahanan dalam negeri daripada terjebak dalam diplomasi yang seolah-olah piawai.
”Presiden Prabowo harus menggunakan modal konstitusi untuk mengecam kejahatan kemanusiaan ini langsung ke Washington dan Tel Aviv. Katakan pada Trump dan Netanyahu: berhentilah. Namun, Indonesia juga harus berkaca diri. Jangan sampai diplomasi kita terlihat hebat di luar, sementara tekanan struktural di dalam negeri makin dalam,” tegasnya.
Ancaman Pemiskinan Struktural dan Ekonomi 2026
Indonesia saat ini berada dalam posisi “Rentan Kedaulatan”. Noorsy membedah beberapa poin krusial yang menekan ekonomi nasional:
- Krisis Energi: Dengan impor energi senilai 32,76 miliar dolar AS (2025), potensi kenaikan minyak hingga 100 dolar AS per barel akan memicu inflasi barang impor (imported inflation) dan memperlemah Rupiah secara ekstrem.
- Ruang Fiskal Sempit: Defisit APBN 2025 yang mencapai 2,92% terhadap PDB membatasi ruang subsidi. Jika pemerintah terus menerbitkan obligasi negara baru untuk menutup celah ini, Indonesia terjerat dalam “Finansialisasi” yang menyinambungkan pemiskinan struktural.
- Krisis Kelas Menengah: Jatuhnya 9,48 juta warga kelas menengah serta rendahnya daya beli masyarakat membuat target penerimaan pajak nyaris sulit dicapai.
- Ketidakpercayaan Publik (Public Distrust): Kebijakan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), belanja massal mobil dari India, serta partisipasi dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) 19 Februari 2026, memicu keraguan publik terhadap efektivitas kebijakan pemerintah.
Berdasarkan kondisi tersebut, Ichsanuddin Noorsy memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 hanya akan berkisar di angka 4,9% ± 0,3%.
”Mereset ekonomi Indonesia tidak bisa hanya dengan pendekatan struktural fungsional yang dangkal. Kita butuh perbaikan fundamental sebagaimana pemikiran Soemitro Djojohadikusumo. Jika tidak, tekanan global dan bilateral hanya akan membuat kedaulatan konstitusi kita semakin sulit ditegakkan,” tutup Noorsy.(Red).



