Tragedi di Jerebuu: Siswa Kelas IV SD di Ngada Tewas Gantung Diri, Tinggalkan Surat Perpisahan Menyayat Hati untuk Ibunya

Daerah, Nasional657 Dilihat

​MARKABERITA.ID | Jakarta, 3 Februari 2026– Keheningan di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, berubah menjadi duka mendalam pada Kamis (29/1/2026). Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun berinisial YBS, ditemukan meninggal dunia diduga akibat gantung diri di sebuah pohon cengkih di kebun milik neneknya.

Korban pertama kali ditemukan oleh seorang warga bernama Kornelis Dopo (59) sekitar pukul 11.00 WITA saat hendak mengikat ternak di sekitar pondok kebun. YBS ditemukan tergantung pada dahan pohon cengkih setinggi 15 meter dengan seutas tali sepanjang lima meter. Lokasi kejadian hanya berjarak sekitar tiga meter dari pondok tempat korban sehari-hari tinggal bersama neneknya yang sudah lanjut usia (80 tahun).

Baca Juga  Polsek Tanah Abang Laksanakan Pengamanan Kegiatan Silaturahmi dan Kampanye Tatap Muka Calon Bupati PALI Nomor 4

​Pihak Kepolisian Resor (Polres) Ngada melalui Kasi Humas, Ipda Benediktus E. Pissort, mengonfirmasi bahwa saat dievakuasi, korban sudah dalam kondisi tidak bernapas.

​Pesan Terakhir dalam Sepucuk Surat

Di sekitar lokasi kejadian, ditemukan sepucuk surat tulisan tangan yang ditulis korban dalam bahasa daerah Ngada. Berdasarkan hasil identifikasi dan pencocokan tulisan di buku sekolah korban, polisi memastikan surat tersebut merupakan tulisan asli YBS.

​Berikut adalah isi surat tersebut beserta artinya:

​KERTAS TII MAMA RETI

(Surat Buat Mama Reti)

​MAMA GALO ZEE

(Mama saya pergi dulu)

​MAMA MOLO JA’O

(Mama relakan saya pergi/meninggal)

​GALO MATA MAE RITA EE MAMA

(Jangan menangis ya Mama)

​MAMA JAO GALO MATA

(Mama saya pergi/meninggal)

​MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE

(Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)

​MOLO MAMA

(Selamat tinggal Mama)

​Latar Belakang dan Kondisi Ekonomi

Penyelidikan mengungkap bahwa korban tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit. YBS adalah anak yatim sejak dalam kandungan, dan ibunya, MGT (47), harus menghidupi lima orang anak seorang diri.

​Sebelum peristiwa tragis tersebut, pada malam harinya korban sempat menginap di rumah ibunya. Keesokan paginya, YBS sempat meminta uang untuk membeli perlengkapan sekolah berupa buku dan pena. Namun, karena keterbatasan ekonomi, sang ibu tidak dapat mengabulkan permintaan tersebut dan hanya bisa memberikan nasihat agar korban tetap rajin bersekolah.

Meskipun bukti-bukti awal mengarah kuat pada tindakan bunuh diri akibat tekanan mental dan ekonomi, Polres Ngada tetap melakukan pendalaman dengan memeriksa sejumlah saksi.

​Tragedi ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat akan pentingnya kepekaan terhadap kondisi mental anak-anak, terutama mereka yang hidup dalam lingkungan yang rentan secara ekonomi dan kurang mendapat pendampingan psikologis yang memadai.

​CATATAN REDAKSI:

Berita ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami krisis emosional atau kecenderungan menyakiti diri sendiri, segera hubungi profesional, psikolog, atau layanan kesehatan mental terdekat.(Red).