MARKABERITA.ID | Jakarta, 12 Februari 2026 – Konflik teritorial di Asia Barat kian memanas. Ketegangan di kawasan itu juga merupakan sinyal nyata dari keruntuhan Pax Americana yang telah mendominasi tatanan dunia sejak 1945. Dalam diskusi bertajuk “Potensi Lahirnya Tata Dunia Baru” di Jakarta Selatan, Rabu (11/2), Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto membedah pergeseran peta kekuatan global dan posisi strategis Indonesia dalam menyongsong era pasca-hegemoni Amerika Serikat (AS).
Runtuhnya Pilar Hegemoni Washington
Sejak Nixon Shock 1971, AS membangun kekuasaannya melalui military-financial industrial complex. Namun, rangkaian kegagalan di Afghanistan, ketidakmampuan membendung pengaruh Beijing perdagangan di berbagai kawasan, hingga kegagalan sanksi ekonomi terhadap Iran, menunjukkan bahwa instrumen lama Washington tak lagi efektif.
”Kita sedang menyaksikan mundurnya determinasi geopolitik AS. Mundurnya kapal induk USS Abraham Lincoln dari Teluk Persia adalah simbol visual dari menyusutnya taring sang adidaya,” ujar mereka bersahutan. Analisis ini diperkuat oleh krisis legitimasi domestik di bawah kepemimpinan Donald Trump yang terseret berbagai skandal moral, potensi korupsi, dan politik. Kondisi itu makin menjauhkan AS dari peran selama empat generasi sebagai “Polisi Dunia”.
Antara Pax Judaica, Pax Sinica, dan Jebakan Materialisme
Diskusi tersebut menyoroti dua kandidat pengganti tatanan global:
1. Pax Judaica: Tatanan yang berpusat pada Israel. Tatanan ini cacat moral secara permanen akibat krisis kemanusiaan di Palestina serta sifat _multiple suitable standar._ Sulit memegang janji Israel dalam berbagai hal. Negara kecil yang kokoh memengaruhi AS ini menyukai kekerasan dan pemaksaan untuk mencapai tujuan.
2. Pax Sinica: Kebangkitan China melalui Belt and Road Initiative dan dedolarisasi. Meski menawarkan multipolaritas, tantangannya tetap pada apakah model ini akan membawa kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan hakiki. Atau sekadar replika lama.
Rilis ini menegaskan bahwa baik Barat (Kapitalisme) maupun Timur (Sosio-Komunisme) sama-sama berpijak pada Materialisme. “Pergantian poros tanpa perubahan nilai dasar hanya akan melahirkan ‘anggur lama dalam botol baru’. Dunia hari ini tidak kekurangan kekuatan, tapi kekurangan arah dan kepemimpinan yang bernilai,” tegas Arief Pranoto.
Indonesia: Menuju Mercusuar Dunia 2045
Di tengah kekosongan kompas moral dunia, Indonesia memiliki peluang historis melalui Pembukaan UUD 1945 yang memuat nilai-nilai kemanusiaan universal. Indonesia diproyeksikan tampil bukan sebagai superpower militer yang menindas dan teknologi yang mendikte. Tapi sebagai Mercusuar Dunia—penunjuk jalan bagi peradaban yang memanusiakan manusia.
Diplomasi Berbasis Nilai: Politik Luar Negeri Bebas-Aktif bukan sekadar posisi netral, melainkan keberpihakan pada kesejahteraan, perdamaian, dan keadilan.
Siklus Kejayaan Nusantara: Sejarah mencatat kejayaan Sriwijaya (abad ke-7) dan Majapahit (abad ke-14). Bisa jadi Abad ke-21 (Indonesia Emas 2045) dipandang sebagai momentum kembalinya kepemimpinan Nusantara yang tangguh namun rendah hati. Ini hanya mungkin terjadi jika elit politik, hukum dan bisnis berhenti berhianat dan merevolusi perilaku munafik.
Melawan Kemunafikan
Runtuhnya Pax Americana adalah krisis legitimasi moral, intelektual dan kultural modernitas. Indonesia akan mampu mengambil peran sebagai penunjuk jalan jika berhasil membersihkan diri dari penyakit internal: kecurangan, keserakahan, dan kemunafikan sistemik. Dalam ungkapan yang lain, AS bukan kiblat moral, intelektual, dan kultural. Kiblat Indonesia adalah kiblat konstitusional, UUD 1945 naskah asli, tutur Noorsy.
”Tata Dunia Baru tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling kuat senjatanya, melainkan oleh siapa yang paling mampu memanusiakan manusia,” tutup rilis tersebut dengan seruan optimisme bagi kebangkitan bangsa.((Red).




