Saat Rawa Jadi Beton, Air Menagih Ruang: Refleksi Kritis 2 Februari

Nasional, Opini562 Dilihat

MARKABERITA.ID | Editorial 2 Februari 2026 – Hari ini, dunia memperingati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day). Di saat yang sama, banyak wilayah di Indonesia tengah berjuang melawan kepungan banjir. Ironi ini menjadi pengingat pahit bahwa krisis ekologi yang kita alami—terutama banjir yang kian ekstrem—adalah dampak langsung dari pengabaian kita terhadap ekosistem yang seharusnya melindungi kita.

​Peringatan ini bukan muncul tanpa alasan. Pada 2 Februari 1971, di kota Ramsar, Iran, para pemimpin dunia menyadari bahwa lahan basah adalah ekosistem yang paling terancam di planet ini. Mereka menandatangani Konvensi Ramsar, sebuah perjanjian internasional pertama yang didedikasikan khusus untuk pelestarian habitat vital seperti rawa, danau, sungai, hingga hutan bakau.

Baca Juga  Ketum PPDI Sambut Baik Respons Cepat Gubernur NTB Usulkan Perubahan di Kepengurusan KDD

​Sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1700-an, dunia telah kehilangan hampir 80% lahan basahnya. Kita tidak hanya kehilangan tanah berlumpur; kita kehilangan sistem penyaringan air alami dan perlindungan bencana yang paling efisien yang pernah ada.

​Lahan Basah adalah “Spons” Bukan “Sampah”

​Banjir yang kini merendam pemukiman adalah pesan alam bahwa “ruang parkir” air telah hilang. Secara ekologis, lahan basah berfungsi sebagai infrastruktur hijau yang bekerja dalam tiga tahap kritis:

1. ​Retensi: Menyerap tumpahan air hujan layaknya spons raksasa.

2. ​Filtrasi: Menyaring polutan sebelum air masuk ke dalam tanah atau laut.

3. ​Mitigasi: Akar mangrove dan vegetasi rawa memecah energi air agar tidak menghantam daratan dengan destruktif.

Baca Juga  OKNUM MABES POLRI REKAYASA KASUS ITE PENCEMARAN NAMA BAIK DALAM VIDEO "KEJAKSAAN SARANG MAFIA"

​Ketika rawa ditimbun demi semen dan sungai disempitkan demi beton, kita secara sadar sedang menghancurkan sistem “rem” bencana. Dampaknya, curah hujan yang seharusnya menjadi berkah, justru bertransformasi menjadi bencana yang melumpuhkan ekonomi dan merenggut nyawa.

​Seruan Aksi: Melampaui Seremoni

​Memperingati 2 Februari di tengah banjir harus menjadi titik balik. Kita tidak bisa lagi menangani banjir hanya dengan pendekatan teknokratis seperti pompa dan tanggul. Kita butuh pendekatan berbasis alam (Nature-based Solutions).

Hentikan alih fungsi lahan rawa dan gambut yang tersisa.

​Restorasi kawasan hulu dan mangrove sebagai investasi keamanan jangka panjang.

​Edukasi masyarakat bahwa lahan basah bukan “lahan sisa” yang kotor, melainkan jaminan keselamatan kita dari krisis iklim.

Baca Juga  LPKKI Apresiasi Presiden Prabowo: Perombakan Kabinet Menepati Janji pada Rakyat

​”Banjir adalah cara air menagih kembali ruang yang kita rampas. Menyelamatkan lahan basah berarti menyelamatkan ruang hidup manusia.”

​Tentang Hari Lahan Basah Sedunia:

Dirayakan setiap tanggal 2 Februari untuk menandai adopsi Konvensi Lahan Basah pada tahun 1971. Bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global tentang nilai penting lahan basah bagi manusia dan planet.(Red).