Pemalang Darurat Lingkungan: Wilayah Hulu yang Dulu Aman Kini Tenggelam Banjir dan longsor yang melanda

Daerah358 Dilihat
Lokasi jl desa kreyo-mereng

Pemalang, Kamis 5 Pebruari 2026 – Kabupaten Pemalang hari ini bukan lagi bencana alam biasa. Fakta bahwa wilayah hulu Pemalang—seperti Kecamatan Pulosari, Belik, dan Randudongkal—yang selama ini dikenal aman dari banjir, kini ikut terendam, menjadi bukti nyata bahwa keseimbangan lingkungan telah rusak parah.
Daerah hulu yang seharusnya berfungsi sebagai benteng ekologis justru mengalami alih fungsi hutan, kerusakan kawasan resapan air, serta aktivitas eksploitasi sumber daya alam yang masif dan dibiarkan. Ketika hutan hilang dan tanah kehilangan daya serapnya, hujan tak lagi bisa ditahan—air turun membawa bencana.

Foto jln kreyo cibuyur

Ini bukan cuaca ekstrem semata. Ini kejahatan ekologis yang terstruktur.
Alam tidak sedang marah. Alam sedang menyeleksi.
Menyeleksi manusia, kebijakan, dan kepentingan yang selama ini mengkhianati keseimbangan alam.
Ketua Bravo Mawar Hijau DPD Kabupaten Pemalang, Zaenal Mutaqin, S.H., menegaskan:
“Ketika Pulosari, Belik, dan Randudongkal—wilayah atas yang dulu tak pernah banjir—kini ikut tenggelam, itu pertanda hutan dan ruang hidup telah dirusak secara sistematis. Ini bukan salah hujan, ini salah keserakahan dan pembiaran kebijakan.”
Atas nama pembangunan, gunung dikeruk, hutan ditebang, sungai dipersempit, dan lingkungan dikorbankan. Pembangunan tanpa etika lingkungan adalah kekerasan struktural terhadap rakyat, karena yang menanggung risikonya selalu masyarakat kecil.
Bravo Mawar Hijau menilai pemerintah tidak boleh terus bersembunyi di balik narasi bencana alam. Ketika daerah hulu runtuh, maka hilir pasti tenggelam. Ini adalah hukum alam yang tak bisa dibantah.

Baca Juga  Situasi Pospam Simpang Tais Kondusif, Polres PALI Pastikan Keamanan Arus Mudik Lebaran 2025
Foto ; Lokasi belik

Hentikan seluruh aktivitas perusakan lingkungan di wilayah hulu Pemalang.
Tegakkan hukum lingkungan hidup tanpa pandang bulu.
Pulihkan hutan, DAS, dan kawasan resapan air sebagai agenda darurat daerah.
Bencana ini bukan peringatan lagi—ini adalah vonis dari alam.
Jika keserakahan terus dibiarkan, alam akan terus menyeleksi, dan Pemalang akan diwarisi kehancuran, bukan keselamatan.

By. 208