Indonesia Catat Deflasi 0,15% di Januari 2026, Inflasi Tahunan Melonjak Akibat Efek Basis Rendah

Ekonomi, Nasional848 Dilihat

​MARKABERITA.ID| Jakarta, 5 Februari 2026  – Memasuki awal tahun 2026, perekonomian Indonesia menunjukkan dinamika harga yang unik. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (2/2), Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,15% (month-to-month/mtm). Namun, secara tahunan, inflasi justru tercatat melompat ke angka 3,55% (year-on-year/yoy).

​Penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026 menjadi bukti adanya koreksi harga di tingkat konsumen setelah masa libur akhir tahun usai.

​Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa deflasi bulanan ini didorong oleh melandainya harga sejumlah komoditas pangan strategis. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar dalam penurunan harga ini.

Baca Juga  Harga ETH to IDR Turun, CandleStick Justru Cerminkan Kondisi Bullish 2016?

​Beberapa komoditas utama yang mengalami penurunan harga signifikan di antaranya adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, hingga telur ayam. Selain sektor pangan, penurunan tarif angkutan udara pasca-puncak musim liburan serta penyesuaian harga bensin turut mempertebal angka deflasi di bulan pertama ini.

​Meskipun harga-harga cenderung turun secara bulanan, angka inflasi tahunan sebesar 3,55% menunjukkan percepatan dibanding Desember 2025 yang hanya 2,92%. BPS menegaskan bahwa lonjakan ini bukan disebabkan oleh kenaikan harga yang tak terkendali saat ini, melainkan karena fenomena statistik bernama low base effect.

​Pada Januari dan Februari 2025, pemerintah sempat menerapkan kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50%, yang menekan angka inflasi tahun lalu menjadi sangat rendah. Ketika kebijakan tersebut sudah tidak berlaku lagi pada Januari 2026, perbandingan angka tahun ini terhadap basis yang rendah di tahun lalu menciptakan lonjakan inflasi tahunan secara teknis.

Baca Juga  Edspert for Corporation Hadirkan X-Class AI Mastery: Generative AI Menguasai Large Language Models (LLM) Bersama Mentor Ahli Deep Technology

​Di sisi lain, inflasi inti tercatat berada di level 2,45% (yoy), menunjukkan bahwa secara fundamental tekanan ekonomi masih terjaga. Komponen inti yang mengecualikan harga pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah ini mencerminkan stabilitas ekonomi domestik yang masih cukup kuat.

​Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi (TPIP/TPID) terus bersinergi untuk memastikan harga tetap stabil di sepanjang tahun 2026. BI meyakini bahwa lonjakan inflasi tahunan akibat efek basis rendah ini bersifat sementara dan diperkirakan akan kembali melandai setelah melewati bulan Februari.

​Sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, serta penguatan ketahanan pangan diharapkan mampu menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target sasaran pemerintah untuk tahun 2026 dan 2027.(Red).

Baca Juga  Halo Robotics Sukses Lakukan General Visual Inspection (GVI) Oil & Gas dengan DJI Zenmuse H30T