Ichsanuddin Noorsy: Membedah Skandal Epstein, Eksklusivitas ‘The City of London’, dan Runtuhnya Moralitas Global

Internasional248 Dilihat

​MARKABERITA.ID | Jakarta, 15 Februari 2026 – Pakar ekonomi politik Dr. Ichsanuddin Noorsy membongkar realitas gelap di balik struktur kekuasaan dunia dalam diskusi terbaru bertajuk “Dari Epstein File ke The City of London” yang disiarkan oleh Rasil TV. Noorsy memaparkan bahwa fenomena global saat ini bukanlah sekadar kejadian acak, melainkan hasil orkestrasi kekuatan besar yang berpusat pada kendali keuangan dan mekanisme intimidasi elit.

​The City of London: Jantung “Pemerintah Bayangan” Dunia

​Menjelaskan entitas The City of London, Noorsy menegaskan bahwa wilayah ini merupakan entitas hukum dan keuangan berdaulat yang terpisah dari kota London administratif. Memiliki akar sejarah sejak zaman Romawi, wilayah ini disebutnya sebagai episentrum dari “The Government Shadow” (Pemerintah Bayangan).

​”The City of London adalah penguasa keuangan dunia. Meskipun luas wilayahnya kecil, ia mendikte arus modal global. Bahkan Kerajaan Inggris harus mengikuti protokoler khusus saat memasuki wilayah ini,” jelas Noorsy. Menurutnya, pusat inilah yang menentukan figur-figur yang layak berkuasa di berbagai negara melalui instrumen utang dan modal.

Baca Juga  CITY OF LONDON: IMPERIUM LAMA PENGENDALI DUNIA ​Bagian 2 (Selesai)

​Dua Model Kontrol: Intimidasi Individu & Indoktrinasi Institusi

​Noorsy memberikan perspektif tajam mengenai keterkaitan Jeffrey Epstein dengan jaringan elit global. Ia membedah dua model kendali yang digunakan untuk menjaga dominasi:

  • ​Model Intimidasi (Individu): Kasus Epstein membuktikan bagaimana tokoh-tokoh berpengaruh “disandera” melalui skandal moral (seperti pedofilia) guna memastikan loyalitas absolut mereka terhadap jaringan.
  • ​Model Indoktrinasi (Institusi): Berbeda dengan cara kasar Epstein, lembaga seperti World Economic Forum (WEF), lembaga pemeringkat (Moody’s, Fitch, MSCI), hingga Bloomberg melakukan kontrol melalui standarisasi kebijakan. Mereka menjadi validator bagi negara-negara yang masih berkiblat pada standar Barat.

​”Pada kasus Epstein, unit analisisnya adalah individu yang diintimidasi. Sementara pada lembaga seperti WEF, unit analisisnya adalah negara yang diindoktrinasi secara sukarela melalui narasi akademik dan manifesto politik,” ungkap Noorsy.

Baca Juga  Trump Umumkan Investasi Industri Pertahanan Senilai $10 Miliar di Pennsylvania

​“The Highest Hypocrisy” dan Transisi Menuju Pax Algorithma

​Mengutip Joseph Stiglitz mengenai “Kemunafikan Tertinggi” (The Highest Hypocrisy), Noorsy menilai sistem global saat ini sedang mengalami pembusukan moral. Terbukanya dokumen Epstein hanyalah puncak gunung es dari runtuhnya kredibilitas elit dunia.

​Noorsy memprediksi dunia tengah beralih dari Pax Americana menuju Pax Judaica yang penuh gejolak hingga 2030-2040. Namun, ia juga menyoroti kemunculan Pax Technologica atau Pax Algorithma.

​”Masalahnya, sistem ini pun tetap dikendalikan oleh kekuatan keuangan global. Materialisme ekstrem dan standar ganda yang ada melahirkan keseragaman sekaligus keberagaman yang justru mulai mengkhawatirkan para pembuat sistem itu sendiri,” tegasnya.

​Pesan untuk Intelektual: Jangan Silau Standar Internasional

​Secara khusus, Noorsy mengkritik intelektual dan pejabat Indonesia yang merasa bangga ketika mendapat pengakuan dari lembaga internasional. Ia memperingatkan bahwa gelar seperti “Menteri Keuangan Terbaik” atau penghargaan global lainnya seringkali hanyalah bagian dari strategi pemasaran tokoh untuk mengamankan agenda global di dalam negeri.

Baca Juga  Presiden Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan dan Energi sebagai Prioritas Utama

​”Jangan silau. Periksa pijakannya. Seringkali itu hanyalah bagian dari kaderisasi dan kampanye untuk memastikan kontrol mereka tetap berjalan lancar,” pungkasnya.

​Menjelang bulan suci Ramadan, Noorsy mengingatkan bahwa paham materialisme ekstrem pasti akan menemui titik jenuh dan runtuh. Ia mengajak masyarakat untuk menjaga kedaulatan berpikir dan tetap kritis terhadap sistem yang tidak membawa keberkahan bagi bangsa.(Red).