MARKABERITA.ID | Jakarta, 16 Februari 2026 – Rentetan insiden membahayakan yang melibatkan armada Transjakarta dalam kurun waktu 48 jam terakhir memicu reaksi keras dari elemen masyarakat. Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) menilai rentetan kejadian ini bukan sekadar musibah kebetulan, melainkan cermin bobroknya manajemen operasional dan pengawasan keselamatan transportasi publik di Jakarta.
Menanggapi fakta baru dari rekaman CCTV terkait kecelakaan maut di Pondok Labu yang memperlihatkan korban sempat “sempoyongan” sebelum tertabrak, FPPJ menegaskan bahwa narasi tersebut jangan sampai dijadikan alat untuk melimpahkan kesalahan sepenuhnya kepada korban.
”Kondisi fisik pejalan kaki di jalan raya adalah dinamika lapangan yang harus bisa diantisipasi oleh sistem transportasi yang aman. Masalah utamanya tetap pada Titik Buta (Blind Spot) bus besar yang tidak kunjung dimitigasi dengan teknologi sensor atau kamera pengawas yang memadai,” tulis rilis tersebut.
Belum kering duka di Pondok Labu, kepanikan luar biasa melanda penumpang koridor 9 rute Pinang Ranti–Pluit di Halte Pancoran pada Sabtu (14/2/2026). Sebuah bus tiba-tiba mengeluarkan asap tebal dari bagian belakang, memaksa penumpang berhamburan menyelamatkan diri. Peristiwa ini menjadi bukti nyata pengabaian standar perawatan (maintenance) armada yang sangat fatal.
Melihat karut-marut ini, Ketua Umum Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ), Endriansyah, mendesak langkah konkret dari pimpinan tertinggi DKI Jakarta.
”Kami meminta Gubernur Pramono Anung untuk segera mengevaluasi total struktur direksi Transjakarta. Nyawa warga Jakarta bukan bahan eksperimen operasional yang dipenuhi kelalaian,” tegas Endriansyah.
Endriansyah secara spesifik menuntut pencopotan jabatan strategis di jajaran manajemen:
”Gubernur harus segera mengganti Direktur Operasional Transjakarta. Peristiwa kecelakaan maut dan bus yang berasap adalah bukti nyata kegagalan pimpinan dalam menjaga SOP keselamatan. Jika operasional harian saja gagal menjamin keamanan warga, maka restrukturisasi adalah harga mati. Jangan tunggu jatuh korban jiwa lebih banyak lagi!”
Audit Total Kelayakan Armada: Lakukan inspeksi mendadak terhadap seluruh vendor bus untuk memastikan tidak ada armada “rongsokan” yang dipaksa beroperasi demi mengejar kilometer.
Standardisasi Teknologi Keselamatan: Mewajibkan pemasangan sensor deteksi objek dan kamera 360° pada seluruh armada untuk menghapus alasan “titik buta”.
Transparansi Investigasi: Membuka hasil investigasi penyebab asap di Halte Pancoran kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas.
Transjakarta adalah urat nadi Jakarta. Jika rasa aman telah hilang, maka integritas layanan publik Jakarta sebagai kota global telah runtuh di bawah manajemen saat ini.(Red).



