Isra Miraj: Mencari Kompas Moral di Tengah Kabut Post-Truth  

Nasional, Opini304 Dilihat

 

MARKABERITA.ID | Editorial 16 Januari 2026 – ​Dunia hari ini adalah sebuah ruang tunggu yang penuh ketidakpastian. Kita berdiri di atas tanah yang labil—di mana kebenaran sering kali tertimbun oleh narasi yang dimanipulasi, dan masa depan terasa seperti teka-teki yang sengaja dikaburkan. Dalam situasi yang serba “tidak jelas” ini, peringatan Isra Miraj hadir bukan sekadar sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai interupsi tajam terhadap kekacauan logika manusia.

​Melampaui Logika yang Buntu

​Ketika Rasulullah SAW menjalani Isra Miraj, beliau bergerak melampaui batas ruang dan waktu di saat akal manusia saat itu sedang buntu. Hari ini, kita mengalami kebuntuan yang serupa. Kita terjebak dalam krisis kepercayaan terhadap institusi, ambiguitas moral, dan kebisingan informasi yang tidak memberikan solusi.

Baca Juga  Dinas Kebersihan Dan Pertamanan Kabupaten Bekasi Dinilai Lalai, Tragedi Pohon Tumbang Makan Korban Jiwa

​Isra Miraj adalah pengingat bahwa saat jalan mendatar (horizontal) telah dipenuhi hambatan dan kemunafikan, maka satu-satunya jalan keluar adalah pendakian (vertikal)—kembali ke prinsip fundamental yang tak tergoyahkan.

​Menolak Kalah oleh “Amul Huzni” Modern
​Peristiwa agung ini terjadi pada Amul Huzni—tahun kesedihan. Ini adalah pesan bagi kolektif kita hari ini yang sedang dirundung kecemasan ekonomi dan ketidakadilan sosial.

​Ketidakjelasan bukan berarti ketiadaan arah.

* Kegelapan malam bukan berarti hilangnya fajar. Di tengah situasi yang tidak menentu, kita dituntut untuk memiliki keteguhan seperti Abu Bakar As-Siddiq: kemampuan untuk melihat kebenaran dengan mata hati ketika mata kepala dipaksa melihat kepalsuan.

​Editorial ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perdebatan yang tak berujung. Situasi yang tidak jelas hari ini membutuhkan dua hal yang menjadi inti dari oleh-oleh perjalanan Miraj: kedisiplinan (Shalat) dan integritas diri. Jika sistem di luar sana sedang rusak, maka sistem di dalam diri manusia—moralitas dan empati—harus tetap tegak.

Baca Juga  Polemik Pengadaan Laptop BKN: BKN Bantah Tuduhan CBA, LPMLK Desak Kejaksaan Agung Turun Tangan

Isra Miraj adalah manifestasi dari harapan di titik paling rendah. Jika situasi hari ini terasa tidak jelas, mungkin itu karena kita terlalu sibuk melihat ke bawah, ke arah kerumunan yang bingung, dan lupa untuk menengadah mencari cahaya petunjuk yang lebih tinggi.(Red).