Markaberita.id | Jakarta, 7 Desember 2025 – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—menyebabkan lonjakan signifikan pada jumlah korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu, 7 Desember 2025, pukul 19.30 WIB, mengonfirmasi bahwa 921 orang telah meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi ini.
Aceh menjadi provinsi dengan dampak terberat, mencatat 366 korban meninggal dunia. Disusul Sumatera Utara dengan 329 korban, dan Sumatera Barat dengan 226 korban.
Secara keseluruhan, dampak bencana juga mencakup 392 orang hilang dan sekitar 5.000 jiwa terluka di tiga wilayah tersebut.
Data BNPB juga menyoroti kerusakan infrastruktur yang melumpuhkan aktivitas publik dan ekonomi:
- 147.300 rumah di 52 kabupaten/kota mengalami kerusakan.
- 405 jembatan dan 1.300 fasilitas umum lainnya rusak.
- Kerusakan juga terjadi pada 701 fasilitas pendidikan, 199 fasilitas kesehatan, 420 rumah ibadah, dan 234 gedung/kantor.
Menanggapi krisis kemanusiaan dan infrastruktur ini, Presiden Prabowo Subianto memastikan pemerintah mengerahkan seluruh kemampuan negara untuk memulihkan akses logistik dan pergerakan masyarakat.
Komitmen ini disampaikan Presiden saat meninjau langsung pembangunan Jembatan Bailey Teupin Mane, sebuah ruas vital penghubung Bireuen-Takengon di Kabupaten Bireuen, Aceh, pada Minggu, 7 Desember 2025.
Dalam peninjauan tersebut, Presiden Prabowo menekankan target pemulihan darurat infrastruktur.
”Semua usaha kita kerahkan. Nanti semua jembatan kita akan perbaiki. Mudah-mudahan 1 sampai 2 minggu. Karena masalahnya adalah tembus ini baru kita bisa kerja yang lain,” ujar Presiden.
Selain itu, Kepala Negara menerima laporan mengenai kerusakan parah pada bendungan dan lahan persawahan warga. Presiden menjamin bahwa tidak ada petani yang akan ditinggalkan.
”Tadi dilaporkan Bendungan-bendungan juga banyak yang jebol. Nanti PU [Kementerian PUPR] segera akan memperbaiki. Kemudian sawah-sawah yang rusak akan kita rehabilitasi dan sudah dilaporkan ke saya. Petani-petani tidak usah khawatir. Kalau sawahnya rusak, mereka akan balik memperbaiki,” tegasnya.
Kunjungan dan pernyataan Presiden Prabowo pada hari Minggu, 7 Desember 2025, ini menjadi simbol hadirnya negara di tengah bencana, sekaligus menegaskan percepatan pemulihan yang terukur dan berpihak pada masyarakat terdampak.(Red).


