Markaberita.id | Editorial, 23 Desember 2025 — Di tengah situasi bangsa yang terus dihantam krisis keteladanan dan kaburnya batas antara amanah serta kepentingan pribadi, Indonesia kehilangan salah satu kompas moral terbaiknya. Senin pagi, 22 Desember 2025, Ustaz Muhammad Jazir ASP, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, berpulang ke rahmatullah.
Wafatnya beliau bukan sekadar hilangnya seorang tokoh agama, melainkan sebuah pengingat keras bagi kita semua tentang apa artinya menjadi manusia yang jujur di tengah sistem yang seringkali kompromistis.
Jawaban Nyata atas Krisis Integritas Bangsa
Situasi hari ini menunjukkan betapa mahalnya harga sebuah kejujuran. Di saat banyak lembaga publik berjuang melawan praktik gratifikasi dan penyalahgunaan wewenang, Ustaz Jazir justru sudah memberikan solusinya dari sebuah sudut kampung di Yogyakarta. Beliau menghadirkan Radikalisme Kejujuran—sebuah komitmen tanpa kompromi untuk memastikan setiap rupiah harta umat kembali kepada umat tanpa sisa.
Mewarisi darah perjuangan dari kerabatnya, KH As’ad Humam (pencetus metode IQRO), Ustaz Jazir memahami bahwa literasi suci harus mewujud dalam tindakan nyata. Jika IQRO membebaskan umat dari buta huruf Al-Qur’an, maka sistem yang dibangun Ustaz Jazir membebaskan umat dari buta manajemen dan praktik koruptif.
‘Saldo Nol’: Antitesis Budaya Menimbun dan Korupsi
Warisan paling monumental beliau adalah konsep “Saldo Infak Nol Rupiah”. Di saat banyak pengelola dana publik—baik di level pemerintahan maupun organisasi—seringkali terjebak dalam praktik penimbunan anggaran yang rawan diselewengkan, Ustaz Jazir melakukan dekonstruksi total.
Bagi beliau, saldo yang menumpuk di rekening masjid adalah bukti kegagalan amanah. Saldo Nol adalah instrumen antikorupsi yang paling radikal karena dua alasan:
- Mematikan Syahwat Korupsi: Dengan tidak adanya dana yang mengendap (“dana nganggur”), maka tertutup pula celah bagi siapa pun untuk memanfaatkannya demi kepentingan pribadi.
- Akuntabilitas Seketika: Umat diajak melihat secara langsung bahwa dana yang mereka titipkan hari ini, akan menjadi manfaat hari ini juga bagi kaum dhuafa, modal UMKM, hingga pendidikan anak bangsa.
Pesan bagi Pejuang Anti-Korupsi
Bagi Lembaga Pendidikan Masyarakat Anti Korupsi (LPMAK) dan para penggiat integritas, sosok Ustaz Jazir adalah laboratorium hidup. Beliau mengajarkan bahwa melawan korupsi tidak harus selalu dimulai dari meja penyidik atau pasal-pasal hukum yang kaku, melainkan bisa dimulai dari kemauan pengelola amanah untuk “telanjang” di depan publik melalui transparansi total.
Situasi nasional yang masih bergelut dengan indeks persepsi korupsi seharusnya menjadikan sistem Jogokariyan sebagai rujukan nasional. Ustaz Jazir telah membuktikan bahwa kejujuran bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga mampu membawa kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat luas.
Menutup Lembaran, Melanjutkan Api Integritas
Selamat jalan, Sang Arsitek Kejujuran. Kepergian Ustaz Jazir meninggalkan lubang besar bagi pergerakan umat, namun beliau meninggalkan cetak biru (blueprint) peradaban yang sangat jelas.
Tugas kita di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini adalah memastikan bahwa “Radikalisme Kejujuran” yang beliau contohkan tidak ikut terkubur. Kita butuh lebih banyak “Jazir-Jazir” baru di berbagai lini kehidupan—di kantor pemerintahan, di organisasi sosial, hingga di lingkungan terkecil kita—untuk memastikan amanah tidak lagi menjadi barang dagangan, melainkan jalan menuju keberkahan.
Lahul Fatihah.
(Redaksi).




