Markaberita.id | Jakarta, 20 Desember 2025 – Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menjadi titik nadir penentuan masa depan Nahdlatul Ulama (NU). Di bawah bayang-bayang konflik internal yang tak kunjung usai, pertemuan para Mustasyar dan Masyaikh (kiai sepuh) pada Ahad (21/12/2025) ini disebut sebagai “benteng terakhir” untuk menyelamatkan marwah organisasi dan mengembalikan PBNU ke jalur Khittah.
Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, menegaskan bahwa Jakarta—sebagai pusat aktivitas PBNU—merasakan dampak paling nyata dari ketidakstabilan ini. Baginya, polemik di pucuk pimpinan bukan sekadar urusan tata kelola, melainkan beban moral yang mulai mengancam kohesi sosial di akar rumput.
”Konflik ini harus segera disudahi. Jakarta butuh kondusivitas, apalagi pasca ketegangan Agustus lalu. Jika PBNU terus dibiarkan dalam kemelut, kredibilitas moral NU sebagai penyangga kebangsaan akan terus tergerus,” ujar Kiai Lutfi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/12/2025).
Menurut Kiai Lutfi, kehadiran para kiai sepuh di Lirboyo adalah upaya tulus dari para penjaga marwah NU. Ia memandang pertemuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan amanah sejarah untuk memastikan organisasi tetap “waras” dan berjalan sesuai amanah para pendiri sejak 1926.
PWNU DKI Jakarta secara tegas mendukung penuh hasil musyawarah tersebut tanpa syarat. Namun, optimisme tersebut dibarengi dengan peringatan keras bagi pihak-pihak yang mencoba menghalangi jalan damai.
”Kami mencium adanya upaya sistematis untuk menggagalkan pertemuan ini, termasuk menghalangi kehadiran undangan. Namun, kami pastikan PWNU DKI Jakarta akan tetap hadir dan berdiri bersama para kiai sepuh,” tegasnya.
Ancaman Muktamar Luar Biasa (MLB)
Nada bicara Kiai Lutfi kian meninggi saat menyinggung kemungkinan terburuk. Jika ikhtiar islah di Lirboyo tetap diabaikan oleh fungsionaris PBNU, ia menyatakan PWNU DKI Jakarta siap memelopori langkah konstitusional yang lebih drastis.
”Jika suara lembut para kiai sepuh diabaikan, kami siap menjadi inisiator sekaligus tuan rumah Muktamar Luar Biasa (MLB). Kami juga akan mendorong Majelis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk meninjau kembali mandat Rais Aam,” ungkapnya.
Musyawarah di Lirboyo ini merupakan estafet dari pertemuan serupa di Pesantren Al-Falah Ploso dan Tebuireng. Sebelumnya, Forum Tebuireng telah menelurkan empat poin krusial, di antaranya:
- Menilai proses pemakzulan Ketua Umum PBNU tidak sesuai AD/ART.
- Adanya dugaan pelanggaran serius dalam pengambilan keputusan oleh Ketua Umum yang butuh klarifikasi.
- Rekomendasi pembatalan Rapat Pleno penetapan Penjabat (Pj) sebelum prosedur internal tuntas.
- Seruan menahan diri demi menjaga ketertiban organisasi.
Pertemuan yang digagas oleh KH M Anwar Manshur dan KH Abdulloh Kafabihi Mahrus ini menjadi babak penentuan: apakah PBNU akan memilih jalan rekonsiliasi, atau justru terjebak dalam pusaran konflik yang berujung pada perpecahan kepemimpinan secara permanen.(Red).


