Markaberita.id | Jakarta, 19 Desember 2025 – Indonesia berada di persimpangan jalan dalam pengelolaan kekayaan alamnya. Di tengah masifnya hilirisasi nikel dan komoditas strategis, muncul tantangan klasik yang menghantui negara kaya sumber daya: Dutch Disease (Penyakit Belanda).
Pengamat Politik dan Ekonomi sekaligus Komisaris PT Pelindo, Arief Poyuono, menegaskan bahwa kehadiran Danantara (Daya Anagata Nusantara) yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar restrukturisasi birokrasi, melainkan antitesis struktural untuk memutus rantai ketergantungan pada komoditas.
Arief menjelaskan bahwa sejarah ekonomi Indonesia sering kali terjebak dalam siklus “booming” harga komoditas yang berakhir pada kerapuhan struktur ekonomi.
”Euforia sumber daya alam sering kali tidak diikuti transformasi ekonomi berkelanjutan. Kita piawai mengeksploitasi, tapi kerap tertinggal dalam mengelola hasilnya secara strategis. Inilah gejala Dutch Disease—di mana derasnya devisa komoditas justru melumpuhkan daya saing sektor manufaktur dan industri non-sumber daya,” ujar Arief dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/12).
Ia merujuk pada kegagalan negara seperti Nigeria dan Venezuela sebagai pengingat, bahwa tanpa tata kelola institusional yang kuat, kekayaan alam justru bisa berubah menjadi “kutukan pembangunan”.
Menurut Arief, persoalan mendasar selama ini terletak pada desain kelembagaan yang terjebak dalam logika perizinan jangka pendek. Padahal, Pasal 33 UUD 1945 menuntut penguasaan negara yang bersifat beheersdaad—tindakan pengelolaan aktif yang terarah.
”Selama ini, negara cenderung hanya menjadi ‘broker izin’ melalui regulasi pertambangan yang fragmentaris. Kita kekurangan instrumen pengendali strategis yang mampu mengubah kekayaan alam menjadi modal produktif lintas generasi, seperti yang dilakukan Norwegia melalui Government Pension Fund Global,” tambahnya.
Arief menilai Danantara memiliki tiga peran krusial sebagai solusi permanen:
- Mekanisme Sterilisasi: Menyerap kelebihan likuiditas dari keuntungan tak terduga (windfall) SDA agar tidak mendistorsi nilai tukar rupiah.
- Investor Strategis: Mengarahkan modal ke sektor berteknologi tinggi dan bernilai tambah untuk menciptakan kemandirian industri.
- Wujud Nyata Kedaulatan: Menjalankan amanah konstitusi melalui pengelolaan aset strategis secara profesional dan terintegrasi.
Meski optimistis, Arief memberikan catatan kritis bahwa keberhasilan Danantara sangat bergantung pada integritas kelembagaan. Belajar dari pengalaman global, lembaga pengelola kekayaan negara rentan terhadap politisasi dan lemahnya transparansi.
”Risiko itu nyata, tapi bukan alasan untuk menolak Danantara. Solusinya adalah memperkuat desain kelembagaan. Independensi pengelola, audit ketat, dan akuntabilitas publik adalah harga mati agar Danantara tidak menjadi kegagalan baru,” tegas politisi Gerindra tersebut.
Sebagai penutup, Arief menekankan bahwa Dutch Disease bukanlah takdir yang tidak bisa dihindari, melainkan pilihan kebijakan.
”Danantara dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah berani untuk belajar dari sejarah. Ini adalah upaya nyata untuk memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia tidak habis menguap dalam satu generasi, melainkan menjadi fondasi kesejahteraan yang abadi,” pungkasnya.(Red).






