Markaberita.id | Jakarta, 4 November 2025 – Generasi Z, yang digadang-gadang sebagai penggerak ekonomi masa depan, kini berada di tengah krisis kesehatan mental yang dipicu oleh tekanan finansial akut. Data global dan nasional mengonfirmasi bahwa alih-alih menikmati masa muda, hampir 70% Gen Z menghadapi beban mental yang berat akibat ketidakpastian uang, menciptakan sebuah fenomena yang disebut ‘Financial Burnout’.
Tekanan ini terasa sangat nyata di Indonesia. Survei Credit Karma 2023 menunjukkan bahwa krisis kecemasan finansial telah menjangkiti anak muda Indonesia:
- Tingkat Kekhawatiran Tinggi: Hampir 70% Gen Z Indonesia menyatakan rasa khawatir yang mendalam terhadap kondisi finansial mereka.
- Stres Menjadi Penyakit Fisik: Lebih dari separuh Gen Z yang cemas (45%) mengalami manifestasi fisik dari stres keuangan, seperti gangguan tidur (insomnia) dan penurunan nafsu makan.
Kondisi di Indonesia ini sejalan dengan tren global yang menempatkan Gen Z sebagai generasi yang paling stres karena uang:
- Angka 70% Gen Z depresi akibat finansial menunjukkan skala masalah ini. Studi Northwestern Mutual (2025) mencatat bahwa secara umum, 69% orang Amerika mengalami kecemasan akibat ketidakpastian keuangan, dengan Gen Z dan Milenial menjadi kelompok yang paling terpukul.
- Prioritas Stres: 70% Gen Z menjadikan uang sebagai sumber stres nomor satu dalam hidup mereka (Credit Karma 2022).
- Kecemasan Mingguan: Sebanyak 39% Gen Z di Amerika melaporkan mengalami depresi atau kecemasan terkait keuangan setiap minggunya.
Kecemasan Gen Z berpusat pada tiga pilar utama:
-
- Biaya Hidup Tinggi: Kenaikan biaya kebutuhan pokok dan harga sewa tempat tinggal yang melesat.
- Kekhawatiran Karier: Rasa tidak aman terkait stabilitas pekerjaan dan kemampuan untuk mencapai kemapanan finansial dasar.
- Dampak Relasi: Sebanyak 71% Gen Z dalam hubungan serius mengakui bahwa masalah finansial telah menjadi sumber konflik dan ketegangan
Data ini adalah lampu kuning bagi Indonesia. Pemerintah, institusi keuangan, dan perusahaan harus segera berkolaborasi untuk tidak hanya meningkatkan literasi finansial yang praktis, tetapi juga menyediakan akses mudah ke dukungan kesehatan mental. Masa depan ekonomi kita sangat bergantung pada kesehatan mental generasi mudanya.”(Red).





