TANTANGAN MENUJU ‘NOL LUGU’—MENGGALI FONDASI AKAL SEHAT DAN AKHLAK DALAM ORASI PRESIDEN PRABOWO DI UKRI

Nasional522 Dilihat

​Markaberita.id | Editorial 19 Oktober 2025 – Orasi ilmiah Presiden Prabowo Subianto di Sidang Senat Terbuka Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) adalah sebuah kritik eksplisit terhadap praktik koruptif dan mentalitas “lugu” (mudah dibohongi) yang dinilai telah lama merugikan bangsa. Jauh dari sekadar pidato seremonial, Prabowo menantang perguruan tinggi—dengan tema “Ilmu untuk Bangsa, Integritas dalam Tindakan”—untuk menjadi pabrik pencetak pejuang yang cerdas, tangguh, etis, dan sadar akan ancaman yang menggerogoti kedaulatan ekonomi Indonesia.

​Empat Pilar Kunci Kepemimpinan

​Presiden Prabowo menyederhanakan filosofi kepemimpinan efektif menjadi empat pilar yang harus diinternalisasi oleh generasi muda sebagai benteng pertahanan bangsa:

  1. ​Akal Sehat vs. Kepentingan Sempit: Penekanan pada “akal sehat” adalah tuntutan agar akademik mengedepankan rasionalitas dan metodologi ilmiah (ilmu) dalam setiap solusi. Ini adalah kritik tajam terhadap keputusan-keputusan yang didorong oleh dogma politik atau ambisi pribadi yang mengorbankan kepentingan publik.
  2. ​Perhitungan Teliti dan Kebenaran Ilmiah: Pilar ini mewajibkan kejujuran data dan riset mendalam. Kampus harus memastikan output riset mereka “didasarkan atas kebenaran” ilmiah, bukan pembenaran kekuasaan. Hal ini merupakan antidot esensial terhadap fenomena hoaks dan manipulasi narasi di ruang publik.
  3. ​Akhlak sebagai Pilihan Hidup: Pilar terakhir—kepribadian dan akhlak—menjadi inti moral. Prabowo secara eksplisit mendesak generasi muda untuk memilih jalan sulit melawan “orang-orang jahat, zalim, maling, dan perampok.” Pesan ini menggarisbawahi urgensi pencegahan korupsi yang harus dimulai dari kesadaran moral pribadi sejak bangku kuliah, bukan hanya dari penindakan hukum.
Baca Juga  JAM-Pidum Menyetujui 6 Pengajuan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Restorative Justice

​Tantangan ‘Nol Lugu’ dan Ketangguhan Pragmatis

​Narasi kritis yang disampaikan Prabowo menyasar mentalitas “terlalu ramah dan lugu” bangsa Indonesia, yang menurutnya membuat Indonesia rentan dieksploitasi, terutama terkait kekayaan sumber daya alam. Tujuan orasi ini adalah mencapai kondisi “Nol Lugu” dalam bernegara.

​Namun, orasi ini juga menyajikan masterclass tentang ketangguhan pragmatis. Dengan mengutip kegagalan pribadinya (empat kali kalah dalam pemilu sebelum berhasil) dan mendorong mahasiswa untuk belajar darinya, Prabowo mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah siklus jatuh dan bangkit. Pesan “Jatuh, bangkit, jatuh, berdiri lagi—itu baru pejuang,” mentransformasi kegagalan dari stigma menjadi aset pembelajaran. Mahasiswa ditanamkan mentalitas seorang fighter yang tidak gentar menghadapi tantangan pasca-kampus.

Baca Juga  CBA Gelar Diskusi Publik Kasus Suap Blueray Cargo: Soroti Dugaan Aliran Dana ke Aparat yang Belum Tersentuh

​Momentum Sinergi Kampus dan Negara

​Orasi ilmiah ini adalah penegasan bahwa UKRI dan seluruh institusi pendidikan tinggi harus bertransformasi menjadi laboratorium untuk menumbuhkan karakter pejuang sekaligus sumber ilmu yang berintegritas. Jika kampus mampu melahirkan lulusan yang memadukan integritas moral, ketangguhan mental, dan akal sehat ilmiah, maka mereka akan menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan dan kekayaan bangsa dari praktik eksploitasi dan kezaliman.

​Pesan Presiden Prabowo lugas: Masa depan Indonesia bergantung pada kemampuan generasi muda untuk menjadi pintar dan ‘tidak mudah dibohongi’, menjadikan ilmu sebagai bakti dan akhlak sebagai tindakan. Ini adalah panggilan aksi yang menuntut respons serius dari seluruh ekosistem pendidikan tinggi.(Red).

Baca Juga  EDITORIAL: Anak Istimewa, Hak Setara dan Menguji Komitmen Inklusivitas di Hari Anak Nasional 2026