GAJI BESAR: KETUA PIN DESAK KEMENTAN FOKUS PADA PENGUATAN MENTAL WIRAUSAHA PETANI MILENIAL

Nasional341 Dilihat

Markaberita.id | ​Jakarta, 24 Oktober 2025 – Program Petani Milenial Kementerian Pertanian (Kementan) dinilai sebagai “obat” yang tepat untuk mengatasi ancaman krisis regenerasi petani di Indonesia, namun Ketua Umum Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN), Choirul Umam, menegaskan bahwa obat tersebut harus diracik ulang agar benar-benar mujarab. Dengan data yang menunjukkan penurunan signifikan jumlah petani perorangan (turun 7,45% dalam sedekade), PIN menuntut perbaikan fundamental, bukan sekadar janji-janji manis.

​Choirul Umam menyatakan bahwa program yang bertujuan menarik kaum muda kembali ke sektor agraris ini menghadapi tantangan serius dalam implementasi dan kredibilitas.

​“Inisiasi Kementan sejak Mei 2021 ini sangat baik secara niat, karena ini adalah pertaruhan kedaulatan pangan masa depan kita. Tetapi, kita tidak bisa hanya menjual mimpi gaji jutaan. Kita harus membangun fondasi yang kuat. Program ini harus berhenti di tahap ‘memberi ikan’, dan mulai pada tahap ‘memperkuat pancing dan jaring’ mereka,” tegas Umam saat diwawancarai.

Baca Juga  CBA Desak Kejaksaan Agung: Usut Tuntas Keterlibatan Astra Group di Dua Mega-Korupsi!

​Dari Bantuan Sekali Jadi, Menuju Keberlanjutan Jangka Panjang

​Umam merangkum lima poin evaluasi kritis yang menuntut respons cepat dari Kementan, berpusat pada masalah keberlanjutan dan dukungan infrastruktur:

  1. ​Etos Kerja dan Pendampingan Konsisten: Umam menempatkan masalah pendampingan di urutan pertama. Bantuan finansial atau bibit tidak akan berarti tanpa pendampingan yang berkelanjutan yang berfokus pada pembentukan etos kerja wirausaha dan daya tahan menghadapi kegagalan. Kementan harus menjamin pendampingan yang intensif dan fokus pada mentalitas entrepreneurship, bukan sekadar beneficiary.
  2. ​Solusi Nyata Akses Modal dan Lahan: Petani muda seringkali kesulitan mengakses permodalan memadai karena tidak memiliki aset sebagai jaminan. Demikian pula, kepastian hukum atas lahan kerap menjadi isu. Umam mendesak adanya skema permodalan khusus yang inklusif dan deregulasi lahan yang memihak pada anak muda yang berkomitmen di sektor pertanian.
  3. ​Keterpurukan di Hilir (Pemasaran dan Harga): “Semangat anak muda akan mati jika produknya laku murah dan tidak stabil,” kritik Umam. Ia menekankan perlunya intervensi Kementan di sektor hilir. Kementan harus berfungsi sebagai fasilitator pasar yang kuat atau menjembatani langsung petani muda dengan rantai pasok besar untuk memastikan produk mereka terserap dengan harga yang stabil dan menguntungkan.
  4. ​Infrastruktur Modern dan Kesenjangan 3T: Umam mengingatkan, daya tarik milenial terhadap pertanian adalah teknologi (pertanian presisi). Namun, minimnya infrastruktur yang memadai, khususnya di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), menjadi penghalang utama. Perbaikan infrastruktur adalah investasi mutlak untuk membuat pertanian modern dapat dilakukan secara merata.
  5. ​Klarifikasi Kredibilitas Program dari Hoaks: Hal yang paling merusak kredibilitas program adalah miskomunikasi dan informasi palsu (hoaks), seperti janji gaji besar yang tidak realistis. Umam menuntut Kementan segera mengeluarkan klarifikasi tegas dan informasi yang jujur mengenai risiko, peluang, dan support system yang akan didapatkan peserta, demi mencegah kekecewaan masal.
Baca Juga  Indikator: Sumpah Deh, Kita Enggak Pernah Rilis Survei Nasional Juli 2026! Jangan Tertipu Hoaks Ya, Bestie!

​Mendukung Visi, Menuntut Perbaikan Total

​PIN menyatakan dukungan penuh untuk kelanjutan Program Petani Milenial. Program ini vital demi terwujudnya swasembada pangan.

​“Kami mendukung penuh program ini. Visi mewujudkan regenerasi petani dan swasembada pangan adalah visi nasional. Namun, dukungan kami hadir dengan tuntutan tegas: program ini harus disempurnakan sekarang. Perbaikan ini penting agar Petani Milenial bukan hanya pilot project yang indah di atas kertas, tetapi menjadi gerakan nasional yang menghasilkan jutaan pengusaha pangan yang tangguh,” pungkas Umam.(Red).