Markaberita.id | Jakarta, 17 Oktober 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Internasional untuk Pemberantasan Kemiskinan, Forum Kekeluargaan Relawan Pemuda Nusantara (FK REPNUS) melancarkan kritik tajam terhadap kegagalan struktural yang melanggengkan penderitaan rakyat miskin di Indonesia. FK REPNUS menuntut reformasi total terhadap sistem ekonomi yang dinilai hanya menguntungkan segelintir elite.
Faisal Nasution, Ketua Umum FK REPNUS, menegaskan bahwa komitmen global PBB untuk mengentaskan kemiskinan pada 17 Oktober telah dikhianati oleh praktik domestik.
“Hari ini, kita tidak hanya memperingati kemiskinan, tetapi juga mengutuk sistem yang membuatnya abadi. Angka statistik mungkin dibanggakan, tetapi realitas di lapangan menunjukkan bahwa jurang ketimpangan dan kemiskinan multidimensi di Indonesia justru semakin menganga, menantang martabat kemanusiaan,” ujar Faisal Nasution.
UCAPAN MILAD UNTUK PRESIDEN: HARAPAN REFORMASI EKONOMI
Di sela-sela deklarasi perlawanan terhadap ketidakadilan ekonomi, FK REPNUS mengambil momen ini untuk menyampaikan ucapan selamat. Tanggal 17 Oktober juga bertepatan dengan Hari Lahir Presiden Republik Indonesia, Bapak H. Prabowo Subianto.
Faisal Nasution, mewakili seluruh jajaran FK REPNUS, secara khusus menyampaikan ucapan selamat dan harapan.
“Atas nama keluarga besar FK REPNUS, kami mengucapkan Selamat Hari Lahir (Milad) kepada Bapak Presiden, H. Prabowo Subianto. Kami berharap momentum hari lahir Bapak Presiden ini menjadi titik balik bagi komitmen negara untuk benar-benar melawan Serakahnomic dan mewujudkan keadilan ekonomi yang substantif bagi seluruh rakyat Indonesia.”
TUDINGAN KERAS: 10 TAHUN DI BAWAH REZIM SERAKAHNOMIC
Faisal Nasution secara eksplisit menunjuk periode satu dekade terakhir sebagai masa di mana fenomena Serakahnomic (ekonomi berbasis keserakahan) merajalela. Menurutnya, praktik ini telah menjadi fondasi yang menopang peningkatan penderitaan rakyat.
“Kami menuding 10 tahun terakhir telah dijalankan di bawah rezim Serakahnomic. Struktur ekonomi didesain secara sengaja untuk memberikan karpet merah kepada oligarki dan elite, di mana modal dan sumber daya ditarik paksa ke atas piramida kekuasaan. Ini bukan lagi sekadar ketimpangan, ini adalah kemiskinan struktural yang disubsidi oleh kebijakan negara,” tegas Faisal.
Dampak dari Serakahnomic ini, menurut FK REPNUS, terlihat jelas dari:
- Kemiskinan Akses: Rakyat miskin kehilangan akses terhadap sanitasi layak, pendidikan berkualitas, dan kesehatan yang merata.
- Kerusakan Sosial: Peningkatan Indeks Gini merusak kohesi sosial dan menciptakan ketidakpercayaan terhadap janji keadilan.
- Ketergantungan Elitis: Kelompok rentan dipaksa bergantung pada bantuan sosial jangka pendek, alih-alih diberdayakan dengan sistem ekonomi yang mandiri.
DESAKAN FK REPNUS: GULINGKAN STRUKTUR KEMISKINAN!
FK REPNUS mendesak Pemerintah dan lembaga legislatif untuk segera melakukan langkah-langkah dekonstruktif terhadap struktur ekonomi yang ada dan membangun fondasi keadilan sejati:
- Stop Serakahnomic: Menuntut penghentian total segala kebijakan dan praktik rent-seeking dan kartel yang telah menindas daya beli rakyat dan memiskinkan sektor akar rumput.
- Reformasi Perlindungan Sosial Universal: Mendesak pembangunan jaring pengaman sosial yang kokoh, permanen, dan berbasis hak, bukan berbasis politik karitatif.
- Pemberdayaan Ekonomi Konkret: Memprioritaskan anggaran untuk infrastruktur dasar di daerah pelosok dan memberdayakan koperasi serta UMKM sebagai tulang punggung ekonomi, alih-alih fokus pada proyek mercusuar yang hanya dinikmati segelintir pengusaha besar.
“Kemiskinan adalah penolakan terhadap martabat. Hari Internasional ini harus menjadi momentum bagi negara untuk mendeklarasikan perang terhadap Serakahnomic dan mengembalikan martabat setiap warga negara, bukan sekadar hari peringatan yang retorik,” tutup Faisal Nasution.(Red).






