“ENJOY THE POWER”

Obrolan Ringan dengan Ichsanuddin Noorsy di Warkop Tebet

Megapolitan1013 Dilihat

​

Markaberita id |Jakarta, 9 September 2025 – Siapa pun, terutama seorang pemimpin, saat enjoy the power merasuk dalam kepemimpinannya, akan mengalami penurunan kepekaan diri. Bahkan, ‘jiwa kepekaan’ yang merupakan syarat mutlak bagi seorang pemimpin, bisa lenyap. Ini adalah penyakit kekuasaan: “menikmati kekuasaan yang dipercayakan kepadanya” seakan-akan kekuasaan itu miliknya. Penyakit ini akan semakin parah jika ia dikelilingi oleh lingkaran dalam yang juga enjoy the power.

​Virus enjoy the power ini berakar dari ambisi besar, perjuangan panjang, dan upaya “berdarah-darah” yang menghalalkan segala cara untuk meraih takhta. Ketika kekuasaan sudah di tangan, pemimpin yang terjangkit cenderung lalai bahwa amanah tersebut harus dipertanggungjawabkan, baik secara mental dan moral kepada rakyat maupun secara keimanan di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia mengabaikan fakta bahwa amanah itu adalah rahmat Tuhan, bukan warisan, dan bukan semata-mata pencapaian diri atau kelompoknya.

Baca Juga  PT Sigma Jaya Promosindo Diduga Palsukan Tanda Tangan Sekretaris DMI DKI Jakarta dalam Surat Permohonan Sponsor

​Ciri-ciri Negatif Pemimpin yang Terjangkit Virus Ini

​Kecenderungan buruk yang kerap muncul pada pemimpin yang terjangkit virus ini adalah melakukan hal-hal negatif tanpa disadari, seperti:

  1. ​Tidak mampu mendengar realitas aspirasi publik. Ia asyik sendiri dengan ambisi, “onani”, dan mimpinya. Ini adalah fenomena religius yang disebut “tuli.”
  2. ​Tidak mampu melihat dan merasakan denyut nadi di bawah, yang seharusnya menjadi dasar kebijakannya. Ini yang disebut “buta.”
  3. ​Cepat naik darah saat menghadapi situasi mendadak dan tidak bisa menerima kekeliruan bawahan. Semua harus berjalan mulus dan lancar sesuai dengan persepsi keinginannya.
  4. ​Mencari “kambing hitam” jika programnya tidak maksimal atau gagal, alih-alih melakukan audit atau evaluasi kinerja.
  5. ​Bergeser menjadi penguasa. Jika virus enjoy the power menguat dalam kalbu, peran seorang pemimpin akan bergeser menjadi penguasa. Ini ditandai dengan amanah yang dikhianati, yang merupakan benih awal dari otoritarianisme.
Baca Juga  Korps Alumni KNPI Jakarta Timur Dukung Penuh Langkah Pemprov DKI Gandeng Marinir Jaga Ibu Kota

​Lingkaran Dalam yang Militan tapi Pragmatis

​Di sisi lain, kepemimpinan yang enjoy the power sering kali dikelilingi oleh orang-orang yang militan tapi pragmatis. Dua diksi yang berlawanan ini dapat diucapkan dalam satu tarikan napas, karena para pembantu cenderung militan saat kekuasaan berada di puncak, namun akan berubah drastis menjadi pragmatis ketika kekuasaan menurun. Mereka “bermain dua kaki” dan sering disebut publik sebagai penjilat atau kaum pengkhianat. Meski tidak semua seperti itu, jumlahnya tidak sedikit.

​Pada dasarnya, virus enjoy the power hanyalah fenomena balas dendam sejarah atas keterpurukan di masa lalu. Inilah obrolan singkat di warung kopi tentang virus ini dalam kepemimpinan, di mana pun, kapan pun, dan pada siapa pun.(Red).

Baca Juga  Akses Pendidikan Dekat dan Terjangkau: FSWC Desak Percepatan SMPN Cawang di Tahun Anggaran 2026