Merdeka, Tapi Tak Berdaulat: Refleksi 80 Tahun Republik

Ekonomi, Nasional1638 Dilihat

​

Markaberita.id | Editorial 17 Agustus 2025 – ​Pada ulang tahun ke-80 kemerdekaan, sudah saatnya kita merenungkan pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar berdaulat? Kemerdekaan tanpa kedaulatan ibarat sebuah rumah yang bebas dari penjajah, tetapi pemiliknya hanya menjadi janitor—bekerja untuk orang lain di rumahnya sendiri. Sebaliknya, bangsa yang merdeka dan berdaulat adalah leader fighter, pemimpin yang berani menentukan nasibnya sendiri tanpa tunduk pada kehendak pihak lain.

​Kedaulatan bukanlah sekadar bendera yang dikibarkan setiap pagi. Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi untuk mengendalikan arah hidup dan masa depan kita. Inilah mengapa kebijakan pemerintah yang hanya menargetkan ketahanan pangan dan energi dalam RAPBN 2026 patut kita kritisi. Ketahanan adalah level paling bawah, di atasnya ada kemandirian, dan yang tertinggi adalah kedaulatan. Jika kita hanya puas di level ini, kita akan selamanya bergantung pada pasokan dari luar, selamanya menjadi pengikut.

Baca Juga  Lantik 5 Pimti Madya, Yasonna Minta Buat Terobosan Kreatif

​Cengkeraman Utang dan Ketergantungan Ekonomi

​Data RAPBN 2026 memotret realitas yang mengkhawatirkan. Anggaran untuk ketahanan pangan hanya Rp164,4 triliun, sementara ketahanan energi Rp402,4 triliun. Namun, perhatikan angka ini: beban bunga utang di tahun yang sama diproyeksikan melonjak hingga Rp599,4 triliun, meningkat 8,6% dari tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan negara kita habis untuk membayar utang, bukan untuk membangun kedaulatan. Beban utang bahkan hampir dua kali lipat dari anggaran ketahanan pangan dan lebih dari 1,5 kali lipat anggaran energi.

​Paradoksnya, saat negara-negara Barat mulai meninggalkan model ekonomi neoliberalisme, kita justru berupaya memperkokohnya. Rencana seperti Danantara, yang akan meneken kontrak Rp130 triliun dengan perusahaan AS, dan perjanjian dagang yang membuka akses terhadap data pribadi warga, menunjukkan bagaimana kita semakin terikat pada sistem global yang mengikis kedaulatan. Kita seolah mengejar model ekonomi yang sudah mulai ditinggalkan oleh penciptanya.

Baca Juga  Tragedi Glamping Maut di Temanggung: Empat Orang Sekeluarga Tewas, Keraton Yogyakarta Berduka

​Mengubah Fondasi, Bukan Sekadar Tampilan

​Masalah ini berakar dari kecenderungan para pemegang kekuasaan untuk memilih solusi struktural fungsional yang populis dan mudah, ketimbang menyentuh akar masalah struktural fundamental. Alih-alih membangun fondasi yang kokoh, mereka sibuk dengan perbaikan permukaan.

​Penyelesaian sejati membutuhkan fondasi sikap yang jujur, tidak serakah, realistis, dan berani bertanggung jawab. Tanpa ini, kita akan terus melihat adab moral hazard, di mana pemimpin berprinsip, “Yang penting aku berkuasa dan kaya. Kalau Anda tidak berdaya, itu urusan Anda.”

​Momen 80 tahun kemerdekaan bukanlah sekadar perayaan. Ini adalah panggilan untuk bertanya: akankah kita terus menjadi janitor di rumah sendiri, atau berani bangkit menjadi leader fighter yang berdaulat seutuhnya? Kedaulatan sejati tidak akan datang dari utang dan ketergantungan, melainkan dari keberanian untuk menentukan jalan kita sendiri.(Red)

Baca Juga  ETH Gas Fee Turun, Apakah Ini Peluang Besar untuk Investor Kripto?