Jakarta Jobfest 2025: Bukan Sekadar Bursa Kerja, tapi Panggung Uji Ketaatan pada UU, Perda dan Komitmen Inklusivitas

Megapolitan412 Dilihat

​Markaberita.id | Jakarta, 15 Agustus 2025 – Di tengah “badai” PHK dan angka pengangguran yang membayangi, Jakarta Jobfest 2025 hadir kembali pada 19-20 Agustus sebagai sebuah festival terpadu. Acara ini bukan hanya menjanjikan 2.000 lowongan dari 40 perusahaan, tetapi juga beragam seminar, pelatihan, dan layanan publik. Namun, di balik kemegahan ini, muncul pertanyaan krusial: apakah Jobfest kali ini membawa solusi nyata atau hanya festival harapan yang gagal menyentuh akar masalah, terutama bagi kelompok yang paling rentan, yaitu penyandang disabilitas?

​Komunitas Sahabat Disabilitas Indonesia menilai, poster-poster acara yang memancarkan optimisme dengan frasa “terbuka untuk disabilitas” adalah pemandangan yang indah, namun terasa ironis. Di balik senyum di poster, tersembunyi realita yang jauh dari kata inklusif. Kami mengajak publik untuk tidak hanya melihat keindahan branding, tetapi juga merasakan tantangan yang dihadapi para pencari kerja disabilitas.

​Yulia Rahmawati, Juru Bicara Sahabat Disabilitas Indonesia, menuturkan dengan nada satir, “Poster acara ini sungguh memukau. Warnanya cerah, desainnya modern, dan pesannya begitu mulia. Tapi, apakah kita juga akan menemukan juru bahasa isyarat secanggih desain grafisnya? Kami khawatir, komitmen ini hanya ada di dunia marketing, bukan di dunia nyata.”

Baca Juga  Narapidana Kasus Pencurian Ditemukan Tewas di Toilet Pengunjung Rutan Cipinang, Diduga Bunuh Diri

​Kesenjangan yang ironis ini semakin menusuk jika merujuk pada data. Indonesia memiliki 22,5 juta jiwa penyandang disabilitas, sebuah populasi yang setara dengan penduduk Australia. Di Ibu Kota, ada lebih dari 165.000 jiwa penyandang disabilitas yang siap untuk bekerja, berkarya, dan berkontribusi. Namun, tingkat partisipasi kerja mereka masih jauh tertinggal. Ini bukan karena ketidakmampuan mereka, melainkan kegagalan kita sebagai masyarakat—dan juga pemerintah—untuk menyediakan ruang yang setara.

​Kami menggarisbawahi beberapa poin penting yang kami harap dapat membuka mata publik, penyelenggara, dan perusahaan:

Pertama: ​Mengapa Transparansi Bukan Sekadar Angka?
Jobfest seharusnya menjadi momentum nyata, bukan sekadar festival angka. Kami mendesak Pemprov DKI dan penyelenggara untuk transparan. Tunjukkan kepada kami, mana perusahaan yang benar-benar berkomitmen memenuhi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 yang mewajibkan kuota 1% untuk penyandang disabilitas. Kami tidak meminta belas kasihan, kami menuntut hak yang dijamin oleh negara. Jika ketaatan pada hukum saja dipertanyakan, bagaimana kita bisa membangun sebuah kota yang inklusif?

Baca Juga  Mempererat Solidaritas, Alumni SMK Grafika se-Jakarta Gelar "Grafika of Brother"

Kedua: ​Lowongan Kerja yang Memiliki Hati.
Perda DKI Jakarta No. 4 Tahun 2021 mengamanatkan fasilitasi pekerjaan yang sesuai. Namun, banyak lowongan kerja yang tersedia masih “buta” bagi kami. Mengapa perusahaan tidak secara jujur mencantumkan, “Posisi ini ramah disabilitas”? Transparansi adalah bentuk penghormatan. Dengan memberikan informasi yang jelas, kita bisa saling menghargai waktu dan harapan, tanpa ada yang merasa dikorbankan.
​Tantangan Akses Fisik dan Hati.

Ketiga: Aksesibilitas bukan hanya tentang jalur landai atau juru bahasa isyarat. Aksesibilitas adalah tentang membuka hati. Jika lokasi Jobfest yang diselenggarakan pemerintah saja masih sulit diakses, bagaimana kami bisa berharap aksesibilitas di tempat kerja? Ini adalah cerminan dari komitmen yang dangkal, yang hanya ada di permukaan.

Baca Juga  Hina Tokoh Pemuda dengan Sebutan Binatang, Oknum PJLP di DPRD Dilaporkan ke Badan Kehormatan

Keempat: ​Menghapus Stigma, Membuka Pikiran. Jobfest 2025 adalah kesempatan emas untuk mengedukasi perusahaan. Kami mengajak para pengusaha untuk melihat penyandang disabilitas bukan sebagai beban, tetapi sebagai aset berharga yang membawa keragaman dan perspektif baru. Kami memiliki semangat, kami memiliki kompetensi. Yang kami butuhkan hanyalah kesempatan yang setara, bukan belas kasihan.

​Kami mendesak Pemprov DKI Jakarta dan penyelenggara untuk melakukan tiga hal krusial: Transparansi Lowongan dengan menyediakan data yang jelas, Evaluasi Pasca-Acara yang melaporkan tingkat penyerapan kerja secara jujur, dan Kualitas Peluang yang memastikan pekerjaan yang layak bagi semua.

​Kami tidak ingin janji-janji inklusif ini menjadi formalitas belaka. Jakarta harus membuktikan bahwa ia benar-benar kota untuk semua warganya, tanpa terkecuali. “Jakarta Jobfest 2025 adalah kesempatan bagi kita semua untuk melihat ke dalam cermin. Apakah kita hanya peduli pada citra yang baik, atau pada kebaikan yang sesungguhnya?” tutup Yulia, mengajak seluruh publik untuk merenung.(Red).